Alvian Novi Arvianto (Pendidikan Bahasa Inggris 2011 UNS)

“Manusia kerdil adalah manusia yang hidup untuk dirinya sendiri” – Bung Tomo
Sejatinya seorang negarawan mempunyai sebuah identitas ‘kenegarawanan’ yang melekat erat dalam sanubarinya. Menjadikannya sebagai penebar inspirasi untuk bersinergi mencari solusi permasalahan bangsa. Namun pelik memang ketika hakikat kenegarawanan sudah mulai dianggap sebagai hal yang tabu dan dijadikan sebagai alasan untuk menjadikan manusia Indonesia sebagai sosok ‘manusia kerdil’ bagi bangsanya sendiri.
Padahala kalau menilik lagi pada hakikat kenegarawanan yang memiliki konsepsi untuk peduli terhadap bangsa dan negara, rasanya saat ini kita belum melihat sosok-sosok yang mau dan mampu melunasi janji kemerdekaan dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Hal yang muncul baru sebatas semiotik dalam perbubahan. Janji-janji kemerdekaan yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 seolah hanya menjadi materi untuk berorasi namun tanpa makna dan impelementasi.
Maka, di sinilah tugas dan tanggung jawab seorang negarawan muda untuk memberikan perubahan pada kehidupan bangsa dan turut serta ambil bagian dalam melunasi janji-janji kemerdekaan. Ataukah sebaliknya, hanya berpangku tangan dan mengabaikan proses saat ini? Membiarkan dan membuyarkan harapan bangsa pada generasi muda? dan hidup untuk dirinya sendiri sebagai ‘manusia kerdil’?
Saya rasa tidak, bangsa ini masih memiliki potensi pemuda yang mau dan mampu mengurusi masa depan bangsa Indonesia. Generasi yang menjadi tonggak perubahan untuk melunasi janji-janji kemerdekaan. Memiliki semangat dan darah juang untuk bergerak dan membentuk pergerakan sebagai rasa ikhtiar untuk menjaga, membela dan merawat bangsa.
Anies Baswedan pernah mengatakan ‘Pemuda itu minim sekali dengan pengalaman. Justru dengan minim sekali pengalaman ia tidak menawarkan masa lalu, melainkan menawarkan masa depan’. Kutipan tersebut bisa dijadikan sebagai bagian elaborasi dan kontemplasi diri untuk lebih peduli terhadap bangsa. Kita hidup sebagai makhluk sosial yang berinteraksi secara masif dalam lingkungan masyarakat. Dari situlah kita bisa menawarkan masa depan dan berperan penuh terhadap kehidupan bangsa. Mencintai bangsa dengan cara yang kita bisa.
Walaupun kadang kala perjuangan itu menemui hambatan dan rintangan dalam menjalankannya, sudah barang pasti ada yang meragukan kapasitas seorang pemuda karena dianggap belum siap untuk mengemban tanggung jawab. Namun hal itu bukanlah sebuah perjuangan mana kala kita harus berhenti di garis batas yang sebenarnya tidak kita kehendaki.
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri” – Pramoedya Ananta Toer.
Pemuda dalam eksistensinya harus ‘berperang’ melawan ‘kegelapan’. Memunculkan kembali harapan bangsa akan janji kemerdekaan yang puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu sudah dimulai perjuangannya. Terus mengaktualisasi diri untuk menjadi agen-agen perubahan bagi bangsa Indonesia.
Ambil bagian dalam perubahan bisa kita wujudkan dengan rasa cinta terhadap bangsa, karena sebuah pengabdian haruslah didasari oleh kecintaan itu sendiri. Seorang negarawan dalam mengabdi memiliki dedikasi tanpa harus berharap balasan atas apa yang mereka perjuangan untuk bangsa dan negaranya. Menjadikan pengabdiannya sebagai sebuah tanggung jawab untuk terus menebarkan semangat dan inspirasi dalam melunasi janji kemerdekaan.
Generasi muda berusaha menjadi bagian dari perjuangan bangsa ini, tak gentar walaupun dihadapkan pada perjuangan yang penuh terjal. Karena seorang pemuda seharusnya menjadi harapan yang tanggap dan peduli pada kehidupan bangsa dan negaranya. Lalu, layakkah generasi muda menyandang gelar ‘negarawan muda’ untuk melunasi janji-janji kemerdekaan?