Putri Dwi Novitasari (Pendidikan Biologi 2011 UNS)

“Ada banyak orang ingin memanggilmu sebagai orang yang gagal. Sebagian orang lain ingin memanggilmu sebagai orang yang bersalah, bodoh ataupun penakut. Tapi jangan pernah kau katakan pada dirimu sendiri karena itu sama saja dirimu telah memberikan sinyal yang salah. Itu yang akan mengerdilkan dirimu sendiri. Jika kau peduli dengan sesuatu, maka berjuanglah untuk itu ! Kau akan temukan dirimu yang penuh semangat juang mampu menabrak tembok ketakutan dan mendorongnya hingga rubuh. Sungguh, kegagalan tak akan membebaskanmu!” (Kapten Haddock dalam film the Adventure of Tintin)

Dalam menjalani hari – hari sebagai seorang mahasiswa yang sering disebut sebagai aktivis, kita tentu memiliki satu ataupun dua hal yang hendak menjadi tujuan. Seringkali teringat dalam benak kita, masyarakat sekitar kampus tempat kita belajar ternyata banyak yang belum hidup secara layak lalu kita pun berusaha untuk ikut melakukan pengembangan unit kegiatan masyarakat disana agar sebagian dari mereka bisa memperoleh penghasilan yang mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Kita pun terkadang gelisah hingga akhirnya menitikkan air mata mengingat banyak sekali teman kita yang mulai tak peduli dengan sesamanya hingga satu sama lain seakan hanya memikirkan untuk segera lulus dengan predikat ataupun nilai yang terbaik di kelasnya. Berbahagialah dengan rasa gelisah itu, kawan. Bersyukurlah atas rasa gelisah yang ada dalam diri kita. Gelisah tentang kehidupan di sekitar kita. Gelisah akan  perbaikan dalam diri kita. Inilah kekuatan seorang aktivis. Kita temukan rasa gelisah dalam diri kita, kita sebut ia dengan nama kepedulian dan kita antarkan ia menuju jalan juangnya. Dengan kepedulian, seorang aktivis mampu berlari lebih kencang dari yang lainnya. Dengan rasa peduli itulah seorang aktivis menemukan dirinya mampu menjadi pendengar yang baik, menyalurkan setiap aspirasi pada terangnya jawaban dan kebijakan, tepat sasaran. Berangkat dari kepedulian itulah seorang aktivis bergerak. Meski gelisah sempat membayang, menghadirkan sosok kegagalan yang mungkin bertemu sewaktu – waktu di jalan juangnya, ia teguhkan dalam hati bahwa rasa gelisah untuk bergerak itu pun sama kuatnya. Meskipun kegagalan sesekali pernah bersua, itu bukan berarti suatu tanda kebebasan untuk berhenti bergerak memperjuangkan kepedulian kita. Kini kegelisahan berhak menemukan jawabannya. Ia berubah nama menjadi kepedulian, maka antarkanlah ia menuju jalan juangnya. Antarkanlah kepedulianmu dengan sepenuh ikhtiar.