Asma Azizah (Pendidikan Dokter 2013 UNS)

Aktivis, terdengar berat sekali kata itu di telinga saya. Mahasiswi yang baru akan masuk ke semester 2 perkuliahan. Tergambar dengan jelas wajah seorang kakak di kos dengan kegiatan super padat. Kuliahnya sudah padat, tapi kepadatan kuliah itu tak sanggup membungkamnya untuk ikut seabrek kegiatan lain. Kemudian menoleh kepada jejak hidup yang sudah saya lewati satu semester kemarin, aktivis? Sepertinya saya masih sangat jauh dari kata itu.

Jeda waktu pergantian semester ganjil ke genap yang cukup lama membuat saya harus sedikit memutar otak untuk membunuh rasa bosan yang menghampiri ketika tinggal di rumah. Dan kemudian sebuah tawaran untuk menjadi pengurus di Majalah 1000guru menghampiri. Terbayang oleh saya keribetan yang akan saya hadapi. Pertama-tama saya harus melupakan kengerian akan hitung-hitungan website, lalu saya harus memikirkan bagaimana caranya membagi waktu antara kuliah dan proyek menghafal Qur’an. Lalu.. ah, terlalu lama! Tak ada salahnya coba bergabung, toh saya masih luang. Ya.. nanti kalau sibuk tinggal bilang aja. Sungguh, semangat berkorban yang setengah-setengah. Calon aktivis macam apa saya?

Nyatanya bergabung dengan kepengurusan 1000guru adalah sebuah keberkahan tersediri. Saya belajar banyak hal, bertemu dengan peneliti dan kalangan profesional lainnya. Kumpulan orang-orang yang peduli dengan pendidikan di Tanah Air.

Lain 1000guru, lain lagi Solo Mengajar. Saya masih tak percaya melihat nama saya lolos seleksi administrasi gerakan pendidikan di wilayah Solo ini. Maklum, formulirnya baru saya isi dan kirim di menit-menit terakhir deadline. Saat diwawancara oleh pihak Solo Mengajar, saat itu pula saya sadar bahwa sayalah yang paling banyak diuntungkan dengan semua kegiatan itu. Sayalah yang paling banyak meraup manfaat. Pun ketika mendapat kepercayaan untuk memberantas buta huruf Qur’an di TPA, sayalah yang paling banyak diajari oleh mulut polos adik-adik kecil itu. Diajari untuk bersabar, bersyukur, dan selalu cerita :’) Sungguh, ‘setengah-setengah’ bukanlah metode yang tepat dipakai untuk kerja-kerja pengabdian ini.

Aktivis, mungkin saya kerap memimpikannya dalam lelap. Tapi, dalam ‘bangun’ saya ingin merayakan keberanian ini. Keberanian untuk tampil berbeda dengan calon dokter lainnya. Sebuah nyali untuk mengorbankan waktu belajar kesehatan sebagaimana seharusnya.

Saya ingin membersamai anak-anak itu, merayakan kebahagiaan mereka. Bahagia karena lepas dari belenggu buta huruf. Bahagia karena bisa selalu tertawa tanpa perlu ditanya keikhlasannya menghadirkan tawa itu. Dan bahagia saya sederhana. Sesederhana melihat liker yang banyak di fanpage 1000guru.net ; sesederhana dicium tangannya layaknya guru betulan; dan sesederhana doa ini: Ya Allah, karuniakan kami hati yang sederhana, yang tak banyak menuntut, dan jadikan kami manusia yang senantiasa bersyukur :’)