Ahmad Saifudin (Teknik Sipil 2011 UNS)

Pemukiman padat penduduk dan kurang bersahabat. Itulah kesan yang saya dapat saat pertama kali datang ke Kelurahan Gandekan. Semua itu bermula ketika saya melewati jalan yang tidak seharusnya saya lewati. Bukannya melewati jalan utama namun saya justru melewati gang-gang sempit yang juga merupakan halaman rumah warga.

Ah, peduli apa saya dengan kesan pertama, bukan itu yang saya cari di sini. Kami, saya dan teman-teman dari Solo Mengajar datang hendak melakukan kegiatan belajar mengajar di Taman Cerdas Gandekan.

Namun, kesan pertama tadi justru mendapat penegasan dari salah seorang warga. “Mas mbak, kami rela generasi muda kami saat ini dikatakan preman lah, berandalan lah tapi kami tak rela jika anak-anak kecil kami juga akan berakhir seperti mereka. Bahkan jika memungkinkan, kami ingin menghapus generasi muda saat ini.” Kurang lebih demikian penuturan salah satu warga saat diskusi mengenai pembukaan kegiatan Mengajar di Taman Cerdas Gandekan.

Sebagai informasi, tahun 2012 lalu di Kelurahan Gandekan sempat terjadi konflik antara preman di wilayah tersebut dengan salah satu kelompok muslim. Alhamdulillah konflik ini tidak berlangsung lama.

Tergetar hati ini mendengar pernyataan tersebut. Lihatlah, betapa besarnya harapan bapak ini pada kami. Mampukah? Ah, saya kira itu bukanlah sebuah pertanyaan yang perlu dijawab. Siapkah? Insyaallah, luruskan niat bulatkan tekad dan jaga semangat. Apapun yang terjadi, kami harus mencobanya.

Dari awal, tak ada yang bilang bahwa jalan yang kami pilih ini mudah. Saya tahu akan banyak halang rintang yang menghadang. Saya juga tahu, jalan ini bukanlah jalan yang ramai dengan riuh tepuk tangan. Bahkan tak jarang justru panen ejekan. Saya juga tahu, jalan ini bukanlah jalan yang ramai dilalui banyak orang. Hanya segelintir orang yang masih mau meniti jalan ini. Namun, saya benar-benar tahu bahwa saya harus melalui jalan ini.

Seiring berjalannya waktu saya pun mulai menemukan berbagai masalah lain yang dialami oleh anak-anak di sana. Mulai dari adanya anak-anak yang tidak memiliki cita-cita hingga ada yang harus menyaksikan kedua orang tuanya berpisah.

Seperti yang selalu dibilang oleh Pak Yoga, direktur Solo Mengajar, “Apa yang kita lakukan saat ini adalah sebuah pergerakan bukan program. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tak akan pernah selesai.” Saya terpaksa harus sepakat mengenai hal tersebut. Di manapun kita berada, saya yakin yang namanya masalah di masyarakat pasti adanya dan akan selalu ada.

Apa yang saya dan teman-teman Solo Mengajar lakukan saat ini hanyalah sedikit upaya dari kami untuk turut urun tangan menunaikan janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami tak ingin hanya sekedar urun angan. Akan kami berikan apa yang bisa kami berikan. Saya percaya bahwa apa yang kita miliki saat ini ada hak orang lain di dalamnya. Harta, ilmu, kedudukan, semuanya ada hak orang lain di dalamnya.

Lantas, masih adakah yang belum tahu mau berbuat apa untuk Indonesia? Saran saya, kenalilah diri Anda dengan baik maka Anda akan menemukan jawaban yang Anda cari.

“Setiap perubahan dimulai dari hal-hal kecil dan dilakukan oleh segelintir orang. Sebuah pilihan apakah kita hanya akan jadi penonton dari setiap perubahan yang ada atau turut menjadi penggerak dalam perubahan itu sendiri”