Indra Budi Setiawan (Pendidikan Fisika 2012 UNS)

Indonesia, bagian kecil dari ragam kesenian seantero dunia kini mulai menggeliat mengikuti kompetisi pasar internasional yang saling menjatuhkan. Negara yang punya potensi besar ditiap penjurunya memberikan jaminan yang cukup untuk menjadikan negara ini tersohor dengan kekhasan lilin-lilin di tiap penjuru itu.

Namun, waktu yang akan menjadi saksi ketika kesenian itu mulai berhenti bernafas. Perlahan mulai runtuh ketika tiang-tiang penyangga perlahan terkikis air yang mengalir pelan. Mulai hilang ketika lilin itu tidak dinyalakan, hanya teori-teori cara pemakaian saja yang terus diperanakkan. Kesenian membutuhkan kerja nyata, pelestarian berstrategi dan berkelanjutan.

Ketika api lilin yang mulai goyah oleh terpaan angin, Imam Soleh terus menjaganya untuk terus hidup. Menjaga karya-karya tetap lahir tiap tahun menjadikan Ia sosok salah satu penyelamat kesenian Indonesia. Kesenian yang banyak orang hanya menganggap hobi berpenghasilan, mampu Ia jaga dan lestarikan dengan filosofi hidup penuh barokah.

Imam Soleh lah yang meluruskan cibiran penghancur kesenian., ketika penghasilan dari penyambung kesenian antar generasi sering tidak lah mencukupi beban hidup. Memhancurkan cita-cita yang sudah meluap-luap dengan bayangan hidup yang tidak ada kepastian. Melemahkan semangat secara pelahan dengan buaian imajinasi keuangan.

“Profesi itu tidak ada hubungannya dengan rezeki. Rezeki itu hubungannya dengan Allah, profesi pun hubungannya dengan Allah”, katanya di sebuah acara Talk Show stasiun televise swasta. Filosofi hidup penuh barokah yang menghantarkan Ia menjelajah sudut-sudut bumu tiap jengkalnya. Kayakinan hidup penuh tawakal, ikhlas berdedikasi untuk menjelaskan dengan contoh penyelesaian penghambat reproduksi generasi penerus kesenian Indonesia.