Hasan Fahrur Rozi (Psikologi 2012 UNS)

Penuh dengan keramaian. Keakraban seakan bukan lagi menjadi hal yang aneh. Berbagai cerita banyak diungkap. Emosi alami seorang insani mencuat tanpa perlu ditutupi. Inilah Pasar tradisional. Tempat kesederhanaan yang banyak membawa janji kehidupan untuknya Sang pedagang, pembeli, atau untuk mereka yang sekedar lalu lalang.

Tidak perlu memperindah diri untuk menikmatinya. Pasar selalu menerima kita apa adanya. Tidak perlu menahan ekspresi yang ingin diungkapkan. Pasar selalu menjanjikan persahabatan. Tidak perlu membesar-besarkan diri. Pasar hanya melihat arti. Inilah janji pasar. Janji yang berjalan tanpa dikumandangkan.

Kebersamaan  yang tiada perlu mengenal engkau siapa. Pemenuhan kebutuhan tanpa mengesampingkan riang canda. Toleransi yang mengedepankan tenggang rasa. Sekali lagi, inilah janji pasar. Janji yang sudah ditepati.

Berbanding terbalik dengannya, modernitas adalah hal yang didewakan. Lingkungan menuntut dirimu yang harus dipenuhi dengan keindahan. Kalaulah dapat bicara, mungkin ia akan berkata “Sandal Jepit dilarang masuk!”.  Masalah tak boleh dibawa ke sana karena tempat itu hanya untuk orang yang berburu bahagia, meskipun itu fana. Inilah janji mall. Janji keangkuhan yang berjalan tanpa dikumandangkan.

Pasar, untuknya yang gagah berani hingga yang tak bergigi. Menyapa setiap yang berlalu tanpa arogansi. Namun, kekumuhan yang ada padanya sering kali menimbulkan kesenjangan. Terutama, bagi mereka yang bertahtakan kemewahan. Seakan najis baginya kaki dilangkahkan. Sayang, sungguh sangat disayangkan. Hanya karena kekotoran, janji tulus pasar untuk memperbaiki peradaban tiada lagi terhiraukan.

Wahai, tangan-tangan muda! Relakah kau kehilangan senyum renyah yang menawarkan keramahan lokal? Relakah kau kehilangan tempat penyokong peradaban? Biarkanlah nuranimu yang menjawab. Ketulusan janji pasar hanya mampu menggetarkan kebesaran hati.