Novi Irma Purwanti (Agroteknologi 2013 UNS)

Masyarakat Indonesia pasti tak asing lagi dengan pasar tradisional. Pasar tradisional di Indonesia mempunyai beragam jenis dan tipe. Ada yang mempunyai lokasi tetap ataupun sementara. Mayoritas pasar merupakan tempat dimana masyarakat dapat membeli kebutuhan sehari-hari namun ada juga pasar yang hanya menjual komoditas tertentu seperti kain batik atau oleh-oleh khas daerah tersebut.

Tawar menawar diantara pedagang-pembeli merupakan hal lumrah di pasar. Ini merupakan interaksi sosial yang mengawali hubungan mereka selanjutnya. Seringnya pergi ke pasar, melakukan proses tawar-menawar dan didukung oleh sifat dasar masyarakat Indonesia yang ramah tamah menciptakan suatu hubungan sosial sendiri antara pembeli dengan pedagang-pedagang di pasar. Menurut Damsar (2002:183-117) bahwa pasar mengatur kehidupan sosial ekonomi secara otomatis. Dalam sosial telah berbagai macam pendekatan dalam memahami pasar yakni pendekatan jaringan sosial yang melihat pasar sebagai suatu struktur hubungan antara beberapa aktor pasar,  pendekatan sistem sosial dan pendekatan konflik.

Pasar tradisional juga mempunyai nama yang unik. Ada pasar yang dinamai berdasarkan hari ‘pasaran’ seperti Pasar Kliwon, Pasar Wage atau Pasar Pon. Ada juga pasar yang dinamai berdasar komoditas yang dijual seperti Pasar Batik dan Pasar Buah. Penamaan pasar tradisonal berdasarkan nama hari tradisional merupakan cermin bahwa di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, masyarakat mempunyai perhitungan hari sendiri. Ini merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang terdapat di Indonesia.

Namun keberadaan pasar tradisional kini mulai tersisih oleh adanya pasar yang bersifat lebih modern seperti mall atau minimarket. Seperti yang kita bisa lihat sendiri, minimarket merupakan salah satu bentuk pasar modern yang keberadaannya tengah tumbuh bagai jamur di musim hujan. Di satu desa misalnya, kita bahkan bisa menjumpai sampai lebih dari tiga minimarket.

Fasilitas serta kenyamanan pasar modern jelas lebih unggul dibandingkan pasar tradisional. Meski harganya pas alias tidak bisa ditawar namun tak jarang harga barang di tempat-tempat semacam itu malah lebih murah daripada yang ada di pasar tradisional. Oleh karena itu tak mengherankan bila sebagian masyarakat yang semula selalu berbelanja di pasar tradisional kini mulai berpindah hati ke mini market.

Gengsi juga merupakan salah satu faktor sepinya pasar tradisional belakangan ini. Kita ambil contoh saja seorang sarjana yang berhasil menamatkan kuliah karena orang tuanya banting bulang sebagai pedagang di pasar. Setelah menjadi sarjana orang tersebut merasa malu dan enggan untuk meneruskan usaha orang tuanya. Ia justru memilih untuk menjadi pelayan di sebuah minimarket.

Ironi-ironi seperti ini tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Jika hal ini terus berlanjut, maka perekonomian Indonesia akan benar-benar dikuasai leh kaum kapitalisme sehingga rakyat kecil akan menjadi korban. Banyak upaya yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini pemerintah sedang giat-giatnya melakukan revitalisasi pasar agar pasar tradisional tak kalah saing dengan pasar modern dari segi fasilitas dan kenyamanan.Selain itu, penghidupan kembali pasar tradisional tidak hanya dengan cara revitalisasi yang menganggarkan dana hingga miliaran rupiah. Banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah dengan memilih berbelanja di pasar tradisional. Selain membuat pasar lebih eksis, hal ini juga menjadi wujud kecintaan kita terhadap produk lokal Indonesia.