Arum Angger Rosiah (Pendidikan Fisika 2012 UNS)

“Kenapa kamu gak mau ikut Organisasi?” tanyaku penasaran

“Ah malas, tugas-tugas kuliah aja udah banyak, ga ada waktu buat organiasasi.”

Ya, itulah realita kehidupan mahasiswa zaman sekarang. Penuntutan nilai IPK yang tinggi dan lulus dengan cepat membuat mereka seolah-olah terpenjara dalam dunia perkuliahan. Padahal, mahasiswa bukan hanya sekedar itu, mahasiswa adalah pembawa perubahan. Sudah selayaknya seorang mahasiswa itu meningkatkan kualitas dirinya dalam organisasi, sebagai bekal terjun ke dalam masyarakat nantinya.

Menjadi seorang aktivis tidak akan mengorbankan akademiknya, bahkan akan meningkatkan kompetensinya dalam bidang soft skill. Mengasah kemampuan berbicara di depan orang banyak, mengasah kemampuan berpendapat, dan memiliki banyak teman. Itulah keuntungan-keuntungan yang kita dapatkan dari berorganisasi.

Memang benar, terkadang, kondisi akademik kita terganggu karena kegiatan kita yang seabrek itu. Itu karena kita bukan hanya mengatur diri untuk memenuhi kewajiban dan amanah dari orang tua untuk bersekolah, namun juga tugas-tugas kepanitiaan organisasi lainnya. Namun jika memang kondisi akademik kita turun, kita jangan seenaknya menyalahkan organisasi, namun lihat dahulu diri kita. Siapkan cermin untuk memperbaiki diri. Mungkin kita kurang pandai mengatur waktu, alias menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak terlalu penting. Jika kita sudah memilih menjadi seorang aktivis, kita harus berani memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya, meninggalkan hal-hal yang tidak penting, dan selalu menyeleksi setiap kegiatan yang akan kita lakukan, apakah kegiatan itu bermanfaat atau tidak bagi kita. Jangan lupa juga kita harus menyeimbangkan waktu antara kuliah, organisasi, dan ibadah kita. Jangan memberatkan satu dari ketiga itu, pun jangan meremehkan salah satunya. Keseimbangan itu harus tetap kita jaga, agar kita dapat menjadi mahasiswa yang sukses.

Ingatlah wahai kawan, ilmu itu yang bermanfaat, bukan yang dihafal. Sebagai mahasiswa, aliran ilmu mengalir dari berbagai sumber. Dari dosen, dari buku bacaan yang kita baca, dari internet, dan lain sebagainya. Namun kita yang di cap sebagai kaum intelektual, mengapa tetap berdiam saja melihat bangsa yang sudah semakin tidak karuan ini??

Tunjukan bahwa kita adalah benar-benar kaum yang intelektual, yang menggunakan ilmunya demi kepentingan banyak orang. Kita ini generasi penerus bangsa, yang akan memegang tongkat kepemimpinan di masa yang akan datang. Entah menjadi pemimpin kelompok kecil atau besar, sejatinya diri kita ini dilahirkan sebagai seorang pemimpin kok.

Nah sudah saatnya kita sebagai mahasiswa beraksi, tentu langkah awal adalah dengan mengikuti organisasi. Indonesia membutuhkan kita, jadi jangan takut akan setiap langkah yang kita ambil. Jika kita tetap takut melangkah, kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadilah aktivis yang profesional!