Dyah Ayu Mawarningsih (Pendidikan Sosiologi 2012 UNS)

Pasar  tradisional, mungkin dari dulu sampai sekarang sering kita dengar namanya. Bukan seperti pasar yang kita anggap “modern” sekarang. Pasar tradisional, dulu tak asing di telinga bukan pasar kuno. Hanya disanalah orang – orang punya tujuan murni untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Namun karena tempat itu terlalu berharga, banyak orang kemudian mengincarnya. Kekuasaan dibangun dimana – mana dengan memperebutkan kekuasaan. Pasar  sekarang bukan lagi hanya menjadi sebuah sarana pemenuhan kebutuhan ekonomi. Banyak istilah yang kemudian kita kenal sekarang terkait dengan pasar tradisional yang dianggap sebagai momok, seperti “preman”, “pedagang kecil”, “pedagang besar”, “kuli pasar”, dan satu lagi “penjambret”. Kata itu sering kita dengar di telinga. Secara langsung sebutan tadi menjadi sebuah penggolongan atas apa yang dimiliki seseorang. Kita secara tidak langsung bukan hanya menggolongkan tetapi juga membedakan atas dasar kepemilikan kekuasaan dan harta.

Terlepas dari semuanya sampai saat ini, di Kota Surakarta misalnya, para punggawa pemerintahan mulai tergugah hatinya dengan mulai membenahi  semua pasar tradisional yang mempunyai citra buruk di masyarakat. Gambaran tentang pasar sebagai tempat yang kumuh dan sarang kriminal sedikit demi sedikt mulai diubah. Kita lihat mulai dari pembenahan Pasar Gedhe dan Pasar Legi sebagai pasar induk di kota ini, penataan pedagang pasar tradisional di pasar yang ada di setiap tempat seperti Pasar Ledoksari, Pasar Kadipolo, Pasar Nangka. Akibatnya, “image” buruk sebuah masyarakat bisa berubah. Pasar yang dulunya di “anak – tirikan oleh penduduknnya sendiri, sekarang ini bisa bersaing sehat dengan pasar swalayan yang menjanjikan kenyamanan tanpa adanya sesuatu yang mengkhawatirkan.

Kita sadar, dengan begitu besar peranan pasar tradisional untuk bisa menjadi milik bersama akan mampu meningkatkan ekonomi bersama daripada pasar swalayan yang hanya bisa menguntungkan dan menjadikan kaya sebagian pihak.