Yahya Dwi Putra Nugraha (Pendidikan Teknik Kejuruan 2012 UNS)

Pancaran sinar terang berkat polesan tangan sang pemuda mewujudkan peradaban yang sempurna. Semua itu terjadi bukan semata karena pemuda adalah ladang materi, hujan inspirasi yang tak henti-henti, tapi juga tetesan ilham-ilham api, ayat-ayat keindahan yang mencuat selaksana marjan kehidupan. Pemuda adalah aktivis, agen perubahan yang menggerakkan samudra raya kehidupan setiap insan. Mampu melahap karamkan sekaligus menyimpan bertumpuk luka dan bahagia.

Pemuda merupakan sosok yang diilhami potensi yang berlimpah. Mengembangkan potensi diri merupakan suatu hal yang harus diwujudkan. Karena dari potensi itulah akan tercipta suatu kinerja yang sangat berpengaruh bagi pernak-pernik kehidupan manusia. Sosok pemuda yang tumbuh menjadi manusia yang kritis dalam merespon segala bentuk ketidakadilan, sehingga sejarah menggiringnya untuk terus menerjang pagar-pagar penghalang. Mereka akan terus berevolusi mencari jati diri hidupnya untuk meraih masa depan yang lebih baik, lebih terhormat dan bermartabat. Karakter khas terlukis jelas dalam setiap gerakan gebrakan yang penuh keberanian untuk menggapai asa kemerdekaan dan kemandiriannya. Berbagai aral melintang adalah santapan sehari-hari yang harus mereka nikmati. Bekerja dan berkarya, memutar otak demi menghasilkan inovasi yang berguna bagi masarakat, sampai-sampai jiwanya terasa lelah, capek, teraniaya, namun tetap yakin bahwa kebenaran dan kemaslahatan mesti diungkap sepahit apapun. Hal ini merupakan landasan bagi pemuda untuk menggali jati diri untuk menemukan kekuatan diri masing-masing dalam perjalanan mengkualitaskan diri.

Realita dunia aktivis adalah bagian dari rentetan perjalanan hidup seorang pemuda dalam memaksimalkan potensi dirinya. Apalagi kita sebagai mahasiswa yang identik dengan sebutan kaum intelektual, agen sosial yang kehadirannya sangat dirindukan oleh masyarakat. Jadi sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menggali potensi diri seoptimal mungkin untuk memberikan pengaruh positif di lingkungan masyarakat. Kita sebagai aktivis dibentuk bukan hanya untuk menjadi manusia puitis yang hanya bisa ngomong dengan berbagai kata-kata indah namun tak menuai hasil, melainkan kita dibentuk untuk menjadi insan yang produkktif.

Sering sekali kita melihat semangat juang mahasiswa Indonesia yang berusaha menjadi insan produktif dengan terus mengimplementasikan Tri Dharma perguruan tinggi kedalam kehidupan sehari-hari. Mereka terus berjuang bersusah payah mengembangkan pendidikan, melakukan penelitian, serta mengabdi kepada masyarakat demi melihat mereka tersenyum gembira, merasakan hangatnya kehadiran kaum intelektual yang langsung terjun menggandeng, merangkul masyarakat yang benar-benar merasakan pahit getir serta kesusahan dalam menjalin hidup. Banyak sekali terobosan dan ide inovatif yang dibuat mahasiswa untuk mensejahterakan masyarakat, diantaranya yakni membuat taman pendidikan gratis, disitulah seluruh elemen masyarakat akan mendapat pendidikan secara gratis demi menopang, meningkatkan serta membuka cakrawala pengetahuan mereka agar menjadi insan yang cerdas, terampil dan produktif. Selain itu ada juga yang mengabdi dengan membuka lapangan pekerjaan baru dengan cara melakukan pelatihan kewirausahaan kepada masyarakat, misalnya dalam pembuatan sebuah produk baik makanan, souvenir, budidaya ikan ataupun yang lainnya sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan.

Inilah yang diharapkan dan dirindukan bangsa Indonesia, kehadiran mahasiswa, sang aktivis yang dapat berperan di tengah aksentuasi pengutuhan jiwa bangsa, melengkapi nalar impian dan cita-cita yang mesti dilakoni dengan komitmen tinggi, usaha keras dan perjuangan sampai titik penghabisan. Seperti itulah dunia aktivis, bertindak secara nyata dan memberi dampak yang nyata serta memberi banyak inspirasi bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh untuk menjalani kehidupan ini dengan rasa merdeka.