Murawan (Pendidikan Fisika 2012 UNS)

Indonesia, negara kepulauan terbesar yang mampu melenggangkan namanya ke seluruh mata di dunia. Indonesia, negara maritime yang menyimpan jutaan sumber daya laut tanpa batasnya. Dan masih dengan Indonesia, negara timur yang menyimpan segudang keramahan bagi siapa pun yang menghendaki keramahannya.

Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang masih menyimpan sisi kearifan lokalnya. Walaupun sisi kearifan yang tersimpan rapi ini tidak lebih besar dari sisi modernisme dan kapitalisme yang mulai menggerus budaya kemasyarakatannya. Termasuk pasar tradisional yang ada sekarang ini, bisa dikatakan kalah bersaing. Kalah pamor dibandingkan dengan pasar modern sekarang ini yang kian diminati, digemari, dipuja-puja dan bisa dilukiskan menjadi pusat peradaban pasar masa kini oleh kalangan masyarakat elite yang menguasai sector permodalan.

Masyarakat masa kini yang menganggap dirinya bagian dari kemajuan peradaban lebih memilih pasar modern sebagai tempat peristirahatan sementara uang mereka, sebelum kembali ke jalur siklus peputaran uang di negara ini. Artinya mereka lebih memilih membelanjakan uang mereka di tempat-tempat semacam ini karena menyajikan fasilitas yang lebih dibandingkan dengan pasar tradisional yang dikenal kumuh, kotor, dan tidak rapi. Sistem jual beli yang praktis, lokasi yang bersih, penataan ruang dan barang yang rapi, dalam etalase-etalase elite yang menambah poin penilaian pembeli terhadap barang-barang dalam penataan tersebut. Ditambah suasana ruangan yang ber-AC memberikan kenikmatan tersendiri kepada customer.

Sudah bisa dilihat bahwa terdapat banyak kelebihan yang ditawarkan pasar modern seperti mal, plasa, dan sejenisnya kepada para pembeli. Tetapi ada salah satu hal vital yang terlenakan dari pasar modern. Dimana pasar model seperti ini tidak memberikan kepuasan nilai budaya kepada para pelaku ekonomi tersebut. Mereka hanya datang, memilih, membayarkan uang mereka kepada kasir, dan pulang. Tanpa ada interaksi lebih dalam lagi sesama pembeli atau kepada penjualnya. Sebegitu burukkah dampak pasar modern terhadap perilaku masyarakat kita sekarang? Hal ini jelas menjadi semacam pragmatis ekonomi yang bisa saja menjamur meluas terhadap pelaku ekonomi lainnya. Faktanya, senyuman para karyawan dan kasir di pasar modern tidaklah menjunjung nilai kekeluargaan, akan tetapi hanyalah suatu tuntutan pasar yang tunduk pada sistem kapitalisme.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pasar modern memberikan keuntungan di zaman modern. Globalisasi yang menunjang eksistensi sistem pasar semacam ini. Perluasan distribusi barang, penambahan dan peningkatan jumlah lapangan kerja merupakan dukungan utama kenapa banyak pihak yang pro terhadap perkembangan pasar modern. Tetapi menjadi aneh jika keberadaan pasar yang modern justru menggerus eksistensi atau keberadaan pasar tradisional yang sudah berabad-abad menjadi system yang diunggulkan oleh bangsa kita sejak dahulu. Semestinya hal ini bisa dicegah jika regulasi dan pemberian izin pengembangan ritel modern tidak memakan keberadaan pasar tradisional yang bisa jadi menghancurkan peranan pasar tradisional untuk meratakan perekonomian di negara ini untuk masyarakat kelas menengah kebawah. Jadi sector pereknomian tidak dimonopoli kapitalis.

Banyak hal di pasar tradisional yang tidak bisa kita temukan dalam pasar modern. Nilai-nilai dan kearifan local misalnya. Di pasar tradisional pembeli bisa melakukan bargaining kepada para penjual yang sering diselingi dengan percakapan lain yang menambah aroma kekeluargaan dalam praktek jual beli ini. Untuk sesama pedagang sendiri, jika ada pelanggan yang menginginkan barang tertentu tetapi keberadaan stock yang sudah habis, sesama penjual bahkan bisa meminjam barang yang diinginkan pelanggan tanpa ada rasa iri ataupun dengki. Pertanyaannya, jika banyak masyarakat yang masih peduli dan punya sikap social yang tinggi, masih harus ditinggalkankah pasar tradisional ini?

Pengamat budaya dari Universitas Indonesia Bambang Wibawarta mengungkapkan ada sisi perbedaan yang jauh antara pasar tradisional dan pasar modern, yakni adanya nilai-nilai kearifan lokal seperti yang diutarakan di atas. Di pasar tradisional tidak ada monopoli dagang seperti di pasar modern. Harga pun bisa ditawar. Jika ada barang yang tak jadi dibeli, bisa dikembalikan, sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan awal yang dilakukan sebelumnya. Menurutnya hal semacam inilah yang tidak bisa didapatkan di dalam praktek pasar modern. Dengan adanya tawar menawar semacam ini menimbulkan suatu komunikasi budaya yang bisa mempererat rasa kebangsaan antar pelaku perekonomian, memunculkan nilai-nilai tenggang rasa, saling membantu, dan mengurangi sikap individual yang berlebih pada pelaku ekonomi. Sehingga kemaslahatan, keadilan ekonomi bisa saja terwujud dari komunikasi yang terjadi dalam praktek pasar tradisional ini.

Jadi disamping berkembangnya pasar modern, jangan sampai menggusur keberadaan pasar modern. Jika customer yang menginginkan kondisi lokasi perdagangan yang bersih dan rapi seharusnya disinilah peran pemerintah untuk mengubah paradigma masyarakat yang melekat pada pasar tradisional. Dengan kebijakan-kebijakannya seharusnya bisa saja pemerintah mulai melakukan sosialisasi pada pedagang pasar untuk mempercantik kondisi pasar dan kemasan barang yang menjadi objek jual-beli. Di Jepang dan Korea misalnya, kemasan yang ditawarkan lebih modern walaupun ini bearasal dari pasar tradisional, singkatnya walaupun isinya merupakan produk tradisional dari pasar tradisional akan tetapi kemasan dan kondisi barang tidak kalah dengan yang ditawarkan pasar modern, bahkan unggul pada nominal harga yang ditawarkan, yakni lebih murah.

Dari uraian diatas bisa dicerna bahwa pasar tradisional dengan kekurangan dan beragam keunikan di dalamnnya masih patut untuk dipertahankan, terutama warisan tradisi-budaya yang menjadi corak kekhasan masyaraat Indonesia sebagai bangsa timur yang menjunjung nilai dan norma dibandingkan dengan kekuasaan kapitalis. Kemasan boleh modern, tapi  apresiasi terhadap kelestarian budaya lokal harus menjadi bagian dari jati diri bangsa kita, bangsa Indonesia.