Febri Dwi Ningtyas (Pendidikan Dokter 2013 UNS)

Di tengah hiruk pikuk musim kampanye dari berbagai partai menyambut Pemilu 2014, saya pun tak mau ketinggalan untuk mencari sosok Sang Presiden Negarawan. Kemudian, saya teringat akan nasib bangsa Indonesia ini di mana semakin banyak masyarakat memilih menjadi golongan putih atau netral, termasuk dari kaum berpendidikan. Saya yakin, mereka bukan orang yang tidak paham dengan budaya politikdi era demokrasi saat ini. Namun, karena kekecewaan demi kekecewaanlah yang membuat mereka seakan-akan trauma. Sosok yang mereka percaya belum mampu membawa perubahan yang nyata bagi kemajuan bangsa Indonesia. Apalagi masalah di Indonesia saat ini yang bisa dikatakan masalah multidimensi.

Namun, diakui atau tidak, di saat-saat seperti inilah, selalu muncul harapan masyarakat akan datangnya pahlawan. Lalu, bagaimana sosok pahlawan itu? Apakah orang-orang yang selalu mendapat penghargaan setiap tanggal 10 November? Ataukah orang-orang yang menorehkan nama di tempat-tempat yang disebut taman makam pahlawan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tertarik akan kata-kata Anis Matta dalam bukunya “Mecari Pahlawan Indonesia”.

Sosok pahlawan saat ini yang seharusnya menjelma dalam diri setiap pemimpin adalah yang memikirkan generasi selanjutnya, bukan pemimpin politisi yang hanya memikirkan pemilihan selanjutnya. Begitu kata ketua DPD RI, Irman Gusman.

Terlalu munafik memang, jika diri sendiri selalu menuntut orang lain untuk melakukan hal-hal yang kita harapkan sedangkan kita sendiri tidak ikut dalam usaha perbaikan diri. Meskipun tak semua orang memiliki mimpi dan cita-cita menjadi seorang presiden, visi menjadi seorang pemimpin haruslah ada pada diri setiap manusia. Karena memang itulah kodrat seorang manusia dilahirkan di muka bumi, menjadi seorang pemimpin. Lalu, bagaiman melatih diri menjadi pemimpin negarawan?

Pemimpin negarawan adalah pemimpin yang selalu mementingkan bangsa dan negaranya bukan mementingkan kelompok maupun partai tertentu saja. Tentu saja, setiap pemimpin terlahir dari diri pemuda yang memiliki visi yang jelas, karakter yang kokoh, serta jiwa patriotisme dan nasionalisme yang kuat. Namun, agama yang teguh pun tak kalah penting yang harus tertanam pada sosok pemimpin negarawan. Dengan keteguhan agama yang dimiliki maka ia akan secara otomatis merasa bertanggung jawab penuh dan merasa terkontrol oleh Tuhannya selain oleh rakyatnya.

Dari mana pemuda bisa mendapat segudang karakter seperti ini? Sebut saja kita, mahasiswa, adalah warga negara dari sebuah pemerintahan dengan kampus sebagai negaranya. Layaknya seorang warga negara yang memiliki hak dan kewajiban, kita pun wajib untuk menjadi warga negara yang baik demi lancarnya semua aktivitas kampus. Dan salah satu hak kita adalah memilih satu atau lebih dari sekian banyak organisasi yang ada di kampus sesuai bidang dan minat kita masing-masing. Di organisasi inilah kita bisa melatih semua soft skills kita untuk memantaskan diri menjadi pemimpin negarawan. Ikut tetapi bukan sekadar ikut-ikutan. Namun, aktif adalah kunci utamanya. Aktif berarti mengikutsertakan dan melibatkan diri dengan memanfaatkan segala kemampuan yang kita miliki. Maka, dengan disadari atau tidak, karakter dan jiwa pemimpin negarawan akan terbentuk. Mulai dari kepedulian, pengorbanan, kerja keras, hingga pengabdian. Itulah jiwa-jiwa pemimpin negarawan.