Wahyu Hidayah Andriyani Jamil (AGT 2012 UNS)

Mendengar kata Indonesia , jadi terbayang negara yang kaya tetapi seakan menjadi budak di negara sendiri. Kenapa? Karena Indonesia sebenarnya merupakan Negara yang dirahmati Tuhan dengan “ KEKAYAAN” yang melimpah ruah dan tidak terdapat di Negara lain. Baik Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusianya (SDM) yang terhampar luas dari Sabang sampai Merauke. Tapi sayang sekali, karena masyarakatnya kurang perduli, kurang menjaga dengan apa yang telah dimiliki, kurang mencintai negeri serta hanya memikirkan perut sendiri kekayaan alam di Indonesia pun tak terasa dirampas oleh Negara lain dengan halus,ramah pelan tapi pasti, hingga orang Indonesia pun tidak merasa sama sekali. Dengan dipancing rupiah yang nilainya wuaaaaahhhhh…….sampai ikhlas mengorbankan apapun yang ada di Indonesia, memang terlihat menguntungkan tetapi realitanya justru merugikan untuk Indonesia kedepannya. Contoh kecil adalah Freeport alias tambang emas yang pemiliknya merupakan orang luar, apakah tidak sakiiiitttt hati kita? Orang Papua yang dianggap terbelakang pengetahuannya justru mereka berdiri diatas tanah kekayaan, yaitu tanah yang mengandung uang karena di tanah Papua lah Emas didunia ini ditambang. Sudah berpuluh puluh tahun ditambang belum habis, bukankah kaya sekali Indonesia? Tapi apa yang kita dapat? Dari penambangan emas, Indonesia hanya mendapat bagian 5% saja. Apakah tidak sakit….? Papua milik kita loooooooo tapi kemana kita? Papua telah dikuasai Negara lain…..Bayangkan jika dari awal yang mengelola Freeport adalah Indonesia, pasti Negara ini menjadi Negara kaya raya, tidak punya hutang, tidak ada namanya busung lapar, rakyat miskin, pengangguran dan pendidikan maupun kesehatan rakyat Indonesia sudah dipastikan terjamin. Tetrapi apa mau dikata?siapa yang harus disalahkan?rakyat,pemerintah atau presiden? Tidak perlu saling menyalahkan. Kita harus introspeksi diri apa yang harus diperbaiki……? Kita harus BELAJAR MERAWAT INDONESIA dan BELAJAR MENJADI PRESIDEN NEGARAWAN.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Masih banyak Sumber Daya Alam yang bias kita hasilkan ,rawat dan lestarikan. Ayooo kaum pemuda bangkit. Indonesia masih punya kekayaan yang luar biasa yamh belum ditemukan yang tersembunyi bahkan terpendam. Siapa yang akan menggali menemukan potensi yang ditemukan di Indonesia kalau bukan kita? Ayo bangun, bangun dari tidurmu. Mari kita gali potensi di Indonesia baik dari Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusianya. Bagaimana caranya? Dengan belajar menjadi Presiden atau pemimpin yang kritis dan dinamis. Dimulai dari Presiden diri sendiri, keluarga, lingkungan bahkan Negara ini. Presiden tidak harus punya kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Terjadi krisis kepemimpinan di negeri ini hanya karena mengerja harta dan tahta. Maka kepemimpinan muda yang kritis dan dinamis perlu tampil sebagai pemimpin negeri ini yaitu menjadi Presiden Negarawan. Kemudian kepemimpinan seorang Presiden biasanya khas dengan  figuritas, kepemimpinan seorang Presiden Negarawan bukanlah figurnya tapi gagasan, konsep dan terobosan yang ditawarkannya serta kemampuannya untuk mendengarkan dan mewujudkan keinginan rakyatnya..

Dengan fenomena di atas kita harus resah jangan hanya termenung dan melamun melihat peristiwa di Negeri ini, kita harus resah,resah karena mau jadi apa Indonesia kedepannya jika tidak diubah. Tetapi kita harus punya harapan, yaitu harapan untuk bangkit dari semua ini, bangkit untuk maju dan cerdas dalam menghadapi kehidupan global ini. Lalu siapa yang harus bergerak? Jawabnya adalah Kita sebagai Presiden sebagai pemimpin dan seluruh masyarakat Indonesia khususnya kita para mahasiswa yang terpelajar harus bisa menjadi Presiden . Baik Presiden yang memimpin diri sendiri maupun orang lain. Baik Presiden kecil maupun besar. Karena segala sesuatu itu diawali dari yang kecil, sederhana dari diri sendiri dan dimulai dari saat ini atau sekarang…

Cara menjadi Presiden Negarawan yaitu pertama, membekali dengan nilai-nilai moral,sosial, dan keagamaan. Kedua, punya kesadaran sosial dan kepekaan untuk saling berhubungan dengan masyarakat luas, tidak melulu hanya orang disekitar kita tetapi masyarakat luas. Ketiga meningkatkan wawasan baik nasional maupun internasional dalam segala bidang antara lain politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, religi maupun hukum. Kepemimpinan Presiden Kenegarawanan bukan jabatan yang diemban, tapi kemampuan menggerakkan, mempengaruhi, menciptakan partisipatif pemuda dan masyarakat Indonesia untuk maju, bersatu dengan cerdas dan dinamis. Jiwa kepemimpinan  seorang Presiden Kenegarawanan adalah karakter yang bisa merupakan bakat maupun bentukan. Bakat itu dari Tuhan yang asli sejak lahir. Sedangkan bentukan yaitu dengan berprinsip “Membentuk pemimpin atau Presiden, harus membentuk masyarakat” yang mencetak pemimpin untuk mendapatkan pemimpin terbaik. Jadi antara masyarakat dan pemimpin (Presiden) tercipta sinergi: pemimpin memimpin masyarakat, masyarakat mencetak pemimpin. Karena itu mari kita BELAJAR MERAWAT INDONESIA  BAIK SUMBER DAYA ALAM MAUPUN SUMBER DAYA MANUSIANYA, DARI HAL TERKECIL, DARI DIRI SENDIRI DAN DIMULAI DARI SEKARANG UNTUK BISA MENCETAK SEORANG PRESIDEN NEGARAWAN.