Lilis Lestari (Pendidikan Ekonomi 2012 UNS)

Aktivis! Kata yang tidak asing lagi bagi setiap mahasiswa. Aktivis identik dengan seseorang yang aktif dalam sebuah organisasi di suatu lembaga (kampus, instansi, LSM dan sebagainya), seorang yang kritis, idealis,  peduli, dan melakukan perubahandi sekitar lingkungan untuk yang  lebih baik bagi bagi dirinya maupun masyarakat. Aktivis merupakan seseorang atau sekelompok orang (terutama anggota politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. (Balai pustaka, 2002)

Seorang mahasiswa tidak hanya terfokus pada bidang akademiknya saja, tidak hanya di bidang kognitifnya yang ditonjolkan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa itu sendiri menunjukkan bahwa keberadaannya di tengah masyarakat, membela kaum yang lemah. Hal tersebut sesuai dengan Tri Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian masyarakat. Dari ketiga hal tersebut pengabdian masyarakat merupakan hal yang perlu kita laksanakan untuk menjunjung tinggi tri perguruan tinggi sebagai lembaga yang dipandang masyarakat sebagai sesuatu yang menghasilkan perubahan untuk negeri selain dibidang pendidikan dan penelitian.

Mahasiswa sebagai agen perubahan, seseorang yang mampu merubah kondisi di lingkungan sekitar,  kampus bahkan bangsa ini untuk menjadi lebih baik. Selama ini  aktivis dipandang sebagai seorang yang kritis dalam menanggapi suatu masalah baik di bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan aktivis kampus atau seorang aktivis mahasiswa lebih peka ketika ada isu sosial yang berhubungan dengan masyarakat dan keadaaan yang terjadi di negeri ini seperti kesenjangan sosial yang terjadi dimasyarakat, keadaaan politik yang labil dengan bertambahnya pejabat Negara yang korupsi, kolusi dan nepotisme). Hal tersebut menjadikan sebuah peluang bagi aktivis bagaimana menjadikan keadaaan tersebut menjadi lebih baik dengan bergerak, dengan perubahan yang berarti entu itu semua berawal dari diri sendiri. Menjadi seorang mahasiswa yang aktif atau aktivis merupakan suatu panggilan moral bagi mahasiswa yang peduli terhadap lingkungan sekitar yang mampu memberikan perubahan, yang mampu mengubah dan memberikan manfaat.

Aktivis kampus merupakan sebuah kebutuhan bukan pilihan, mahasiswa selain tugas utamanya belajar tentu juga ada tugas yang diembannya sebagai kaum intelektual sesuai dengan tri perguruan tinggi, melalui organisasi mahasiswa dapat menyalurkan aspirasi atau gagasan untuk perubahan bersama menjadi lebih baik. Organisasi tersebut bisa mulai dari tingkat prodi, jurusan, fakultas, bahkan tingkat universitas, atau kita lebih mengenal dan familiar dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa), DEMA (Dewan mahasiswa) dan sebagainya. Dengan mengikuti hal semacam itu kita lebih kritis dalam menanggapi suatu masalah yang terjadi, dengan diskusi dan mencari solusi maka seorang aktivis lebih berperan aktif  sebagai agen of change bagi masyarakat, bangasa dan Negara.

Aktivis mahasiswa kadang salah memahami peran dan fungsi aktivis itu sendiri, peran aktivis tidak hanya dibidang politik saja, kadang kita hanya melihat bahwa aktivis itu mahasiswa yang sering melakukan aksi demontrasi untuk menolak suatu kebijakan pemerintah. Padahal aktivis itu sendiri adalah orang yang ikut serta dalam melakukan perubahan. Misalnya aktivis mahasiswa yaitu seorang aktivis yang peduli dengan hak mahsiswa ada juga aktivis yang peduli lingkungan, maka dia adalah seorang aktivis lingkungan, aktivis perempuan dan sebagainya sehingga aktivis itu tidak hanya di bidang politik saja tetapi berbagai aaspek kehidupan masyarakat.

Mahasiswa yang mengaku aktivis harus mampu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang berani untuk mengemukakan ide, aspirasi dan juga menginspirasi bagi seluruh mahasiswa. Menjadi mahasiswa yang sukses di bidang akdemik dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat, bngsa dan Negara.