Risha Rahmawati (Pendidikan Kimia 2013 UNS)

Berbicara tentang aktivis tidak akan jauh dari kata organisasi. Organisasi merupakan sekumpulan orang-orang  yang berkelompok dan mempunyai tujuan yang sama. Terlepas besar kecilnya cakupan suatu organisasi asalkan terdapat unsur berkelompok dan kesamaan tujuan sudah bisa disebut organisasi. Termasuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang setiap saat kita berpijak padanya. Bumi Pertiwi Indonesia sudah mempunyai dua unsur lengkap untuk dapat dikatakan suatu organisasi. Unsur pertama berkelompok, Indonesia mempunyai banyak sekali budaya masing-masing daerah. Hal ini disatukan dalam simbol Bhineka Tunggal Ika sebagai suatu kelompok utuh tanpa sekat antar anggota kelompoknya (baca : daerah). Unsur kedua tujuan, bangsa Indonesia telah sejak lama mempunyai tujuan bersama. Bahkan sebelum tujuan otentik yang terdapat dalam pembuakaan UUD 1945, Indonesia sudah mempunyai tujuan bersama yakni merdeka dari segala bentuk penjajahan fisik waktu itu

Yang menjadi sorotan berbagai pihak sekarang adalah apakah  tujuan otentik dalam pembukaan UUD 1995 sudah terwujud. Euforia pemilu 2014 akhir-akhir ini menjadi sorotan berbagai media. Berbagai pamflet caleg dari partai A sampai Z terpampang di sepanjang jalan tak terlepas disetiap sudut kampung. Jelas hal ini tidak ekonomis sangat disayangkan uang hanya di gunakan menebar pamflet yang belum tentu dilirik oleh rakyat. Dari seorang pemimpin, rakyat tidak membutuhkan pamflet-pamflet itu melainkan membutuhkan kepastian terwujudnya cita-cita bangsa. Apabila seorang menceloteh “pamflet bisa memberi lapangan kerja juga pada rakyat”. Hal itu hanya pembelaan lisan semata tidak lahir dari hati nurani. Lapangan kerja semetara di masa-masa pesta demokrasi saat ini saja. Itu tentunya tidak diharapka sama sekali.

Terlepas dari pemflet banyak sekali kampanye-kampanye yang menyebabkan pro dan kontra antar pendukung. Berbagai media televisi giat mengiklankan capres cawapres. Itu juga mengundang pro dan kontra. Sudah menjadi langganan sebuah pro dan kontra terutama dalam dunia politik. Sudah saatnya mencari penengah di antara kanan dan kiri. Presiden non-partai. Mengapa tidak ?  presiden non-partai bisa mengurangi kemungkinan-kemungkinan adanya KKN yang sudah menjadi budaya di negara kita, rangkap jabatan di partainya dan memberikan kesempatan bagi rakyat  biasa ( non-partai ) yang mampu, mau dan memenuhi kriteria menjadi presiden.

Negri ini merindukan pemimpin sejati yang bisa melaksanakan janji kemerdekaan yang penah terlontar pada masa 45-an. Aku percaya bahwa banyak pemimpin-pemimpin negri yang masa mudanya menjadi aktivis. Aktivis yang belajar mewujudkan cita-cita organisasi diyakini sedang dipersiapkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa kelak. Lantas siapa aktivis itu ? Kita semua, kita semua yang mau bersama-sama bergerak nyata dalam memperbaiki negri tercinta. Memberi energi aktivasi kita tidak seberapa dibanding dengan cita-cita mulia bangsa kita. Energi minimum lebih baik jika kita bergerak bersama dari pada energi maksimum tak ada yang membersamainya.