Achmad Nurul Hidayat (Pendidikan Dokter 2011 UNS)

Aktivis. Semua mahasiswa tahu siapa mereka, tetapi tidak semua mahasiswa mau seperti mereka. Aktivis merupakan pilihan hidup masing-masing mahasiswa, tidak akan ada yang bisa memaksa. Meskipun, ada beberapa mahasiswa yang menjadi aktivis karena terpaksa. Berbeda dengan sahabat setianya yang selalu menggoda– pasivis, aktivis akan lebih banyak dikenang oleh orang-orang sekitarnya karena kebaikan yang ia hasilkan. Sebenarnya, aktivis dan pasivis memiliki persamaan, akan tetapi lebih banyak ditemukan perbedaan antara keduanya.

Aktivis dan pasivis. Mereka memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari. Tetapi, jumlah jam yang mampu dimanfaatkan aktivis dan disia-siakan pasivis merupakan faktor pembeda yang jelas diantara keduanya. Mereka yang bergelar aktivis mampu menggunakan setiap jam dari jatah sehari untuk kegiatan yang bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya, tetapi jauh lebih besar untuk orang-orang di sekitarnya. Mereka memiliki ruang gerak yang banyak. Tetapi, tidak mereka sia-siakan untuk bersuka cita di zona nyaman yang melenakan. Mereka selalu mencari kemanfaatan saat kekosongan menghampirinya. Sedangkan, mereka yang bergelar pasivis juga mampu menggunakan setiap jam dari jatah sehari untuk kegiatan yang bermanfaat, tetapi untuk dirinya sendiri. Ruang geraknya sudah pasti lebih banyak daripada aktivis, tetapi justru sering mereka sia-siakan untuk bersuka cita di zona nyaman yang melenakan. Mereka selalu mencari kesenangan saat kekosongan menghampirinya.

Aktivis dan pasivis. Mereka mungkin memiliki mimpi dan visi yang sama. Tetapi, misi yang mereka lakukan untuk mewujudkan mimpi dan visinya sangat jauh berbeda. Mereka yang bergelar aktivis jauh lebih mampu memberdayakan segala yang dimiliki daripada mereka yang bergelar pasivis. Misi yang dijalankan aktivis merupakan implementasi dari kemantapan rencana yang mereka susun dan kejelasan maksud dari strategi yang mereka bangun. Ketika salah satu misi mereka gagal, mereka bersabar. Lalu, mampu bangkit lagi karena mereka yakin selalu ada kesempatan yang lebih baik setelah kegagalan mereka. Sedangkan, misi yang dijalankan pasivis merupakan implementasi dari keraguan rencana yang mereka bangun dan ketidakjelasan maksud dari strategi yang mereka susun. Ketika mereka gagal, mereka lebih banyak frustasi dan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Lebih parah lagi, diantara mereka ada yang tak menyesali kegagalan itu sebagai peringatan keras terhadap ketidakjelasan perencanaan.

Aktivis dan pasivis. Orientasi mereka jelas berbeda jauh. Aktivis berorientasi jauh ke depan, tidak hanya setahun, tetapi dua hingga minimal lima tahun mendatang telah ia rencanakan dalam proposal kehidupannya. Rencana studi mereka, karya yang akan mereka hasilkan, karir yang akan mereka perjuangkan, dan organisasi maupun pemerintahan yang akan mereka arahkan telah tersusun dengan matang dan penuh keyakinan. Sedangkan,  pasivis memandang bahwa hidup dijalani sekenanya saja, mengalir tanpa menemukan ujung, dan terlalu pasrah dengan masa depannya. Rencana setahun pun mereka bingungkan. Kemapanan di masa mendatang hanyalah mimpi-mimpi yang sempat terbayang tanpa kesungguhan usaha untuk mewujudkan. Aktivis tetaplah aktivis, pasivis segeralah bangkit, silahkan jika tetap memilih menjadi pasivis, asalkan jangan apatis! Karena, keberadaan seorang apatis akan sama saja dengan ketiadaannya di kehidupan ini. Kehadirannya tidak mengubah apapun kecuali menambah beban lingkungan dan menjadi hiasan peradaban yang sama sekali tidak menambah keindahan.