Deddy Darmawan

Anak bangsa adalah para penerus bangsa. Pemimpin masa depan ada ditangan para anak Indonesia saat ini. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, serta ekonomi bergantung pada kualitas para penerus di masa yang akan datang.  Namun, bisa kita lihat saat ini kerusakan moral terjadi pada setiap tingkat generasi muda. Dimulai dari anak-anak yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, SMA, SMP bahkan SD pun telah menjadi korban. Sering kita lihat, berita di berbagai media massa yang mengatakan bahwa tingkat seks bebas pada anak-anak dibawah umur mengalami peningkatan drastis. Deputi Bidang KBKR; dr. Julianto Witjaksono AS., MGO., Sp.O.G., K.FER, dalam diskusi mingguan BKKB, di Jakarta, Rabu (20/3/2013) mengatakan bahwa satu dari dua remaja 50 persennya beresiko pernah melakukan hubungan intim[1]. Hal ini menjadi bukti yang nyata bahwa generasi penerus bangsa dihadapkan kepada permasalahan yang sangat besar.                               Semakin jauh zaman berkembang, semakin banyak hal negatif yang timbul. Itulah yang sedang kita hadapi bersama. Permasalahan seks bebas tidak hanya terdapat pada anak-anak di atas lima belas tahun, namunn telah masuk pada anak-anak yang masih berada dibangku sekolah dasar. Tidak hanya itu, selain permasalahan seks bebas, tawuran antar pelajar dan perilaku mabuk-mabukan masih kerap terjadi di kota-kota besar. Ini adalah fakta yang telah kita ketahui bersama.

Penanaman Nilai Agama Secara Berkelanjutan

Pembekalan nilai akhlak sejak dini dapat memberikan stimulus kepada para penerus bangsa agar mempunyai daya kontrol diri yang tinggi.

Jakarta: MENINGKATNYA angka kelahiran di Indonesia, diakui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebagai bentuk kegagalan dalam menekan ledakan penduduk.[2]                       

Secara umum, itulah salah satu cara pemerintah yang dimaksudkan untuk menekan jumlah penduduk, tapi tidak tepat sasaran, karena kebanyakan pengunanya adalah anak dibawah umur dan ini memberikan peluang besar bagi para pemuda untuk melakukan seks bebas.    Permasalah ini hanya dapat diselesaikan dengan pembentukan karakter seorang anak sejak dia masih duduk di taman kanak-kanak.  Pendekatan Individu dirasa perlu dan wajib untuk diberlakukan dari pada sebuah sosialisasi. Keagamaan menjadi kunci dalam hal ini. Era modernisasi secara tidak langsung menjauhkan masyarakat dari agama. Pemikiran-pemikiran yang berkembang menimbulkan sebuah pemahaman bahwa agama tidak lagi menjadi sebuah hal yang harus dijunjung tinggi. Peran serta masyarakat dalam memajukan kualitas penerus bangsa sangat dibutuhkan. Kini bukan saatnya untuk mengandalkan pemerintah dan jajarannya dalam mengatasi hal ini, namun kita semua wajib dan berhak untuk turut ambil bagian. Apabila semua masyarakat bergotong royong dan mempunyai satu pemahaman akan pentingnya agama. Maka, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan karena agama akan menjadi filter serta alarm bagi setiap manusia. Sebuah masyarakat yang berakhlak menjadi cita-cita kita semua. Budaya yang harmonis dengan kemajuan peradaban akan menjamin masa depan cerah pemimpin Indonesia. Peradaban yang beradab dibuktikan dengan kultur akhlak masyarakat yang ada, bukan kemajuan teknologi namun disertai pengkikisan nilai sosial. Bukan saatnya untuk diam dan hanya duduk menyaksikan permasalahan yang dihadapi Indonesia. Anak bangsa bukanlah tersangka, tapi mereka menjadi korban dari sebuah sistem. Tidak ada lagi kata menunda untuk menciptakan kultur yang menjadi cita-cita bersama dalam dasar negara. Lindungi anak bangsa maka kau akan melihat Indonesia berakhlak di masa depan.



[1] http://indonesiarayanews.com/read/2013/03/20/52809/news-gaya-hidup-03-20-2013-18-43-48-1-persen-remaja-hamil-di-luar-nikah.

[2] http://indonesiarayanews.com/read/2013/03/20/52765/news-kesehatan-03-20-2013-16-44-bkkbn-akui-programnya-tak-tepat-sasaran