Frengki Nur Fariya Pratama (Sastra Jawa 2013 UNS)

Dalam lamunan sempat saya berpikir, mungkinkah pasar tradisional tetap ada dan mendapatkan tempat dimasyarakat? Hal ini memang menjadi suatu probelamtika sosial, ekonomi masyarakat modern yang cenderung mendampakan suatu yang bersifat wah! Tapi lama- kelamaan malah menjadi wagu!“tidak cocok” dan menginginkan suatu yang serba modern. Tuntutan zaman memang menjadi suatu alasan beralihnya konsumen pasar tradisional ke pasar modern, ini disebabkan adanya stigma masyarakat yang menganggap barang dagangan yang ada di pasar tradisioanal memiliki kualitas yang buruk, namun keyataannya kadang  kala juga ditemukan barang dagangan di pasar tradisioanl yang memliki kualitas jauh lebih baik dari barang-barang di pasar modern.

Pasar tradisional juga sering kali dikaitkan dengan tempat orang-orang ndeso dan ketinggalan zaman, apalagi penataan pasar tradisional yang cenderung kumuh dan kurang rapi membuat para konsumen yang ingin belanja di pasar enggan masuk dan menjelajahinya. Masalah penataan memang mnejadi unsur intrinsik dalam menumbuhkan semangat para konsumen dan menjadi suatu daya tarik selain barang dagangan yang dijajakan. Dibalik itu semua saya ingin memaparkan sudut pandang lain dari permasalahan yang menyelimuti pasar tradisional.

Memang hakikatnya pasar tradisional dekat dengan kehidupan masyarakat menengah ke bawah yang sebagian besar hidup di pinggiran kota yang sangat erat dengan kebersamaan, tenggang rasa, saling asah, asih dan asuh dalam bermasyarakat menjadi nilai budaya yang sampai sekarang masih dipegang teguh mereka sebagai kawula ”rakyat kecil” terutama bagi masyarakat jawa. Menurut Budhi santoso (2012:13) ada tiga nilai dominan yang mencadi acuan hidup orang jawa. Yaitu: 1) Kolektivisme (kebersamaan), 2) spiritualisme (kerohanian), 3) rasa kemanusiaan (tenggang rasa), ketiga nilai ini yang menyatu dan menimbulkan rasa sosial yang tinggi dalam masyarakat jawa.

Saya terikat tentang peribahasa jawa yang berbunyi “ tuna satak bathi sanak” mungkin pembaca sudah tidak asing dengan rangkaian kata tersebut yang memiliki arti tidak apa-apa merugi sedikit asalakan mendapatkan saudara. Kata-kata tersebut menjadi salah satu penyemangat para pedagang di pasar-pasar tradisional sampai sekarang ini khusunya di Jawa. Mereka menerapkan hal tersebut dikarenakan mereka percaya bahwa dalam berdagang itu tidak semata-mata memimirkan keuntungan semata sebab dengan bertambahnya saudara, mereka akan saling kenal dan menimbulkan rasa pekewoh “rasa sungkan” jika tidak membeli dagangannya.

Sebagai salah satu tempat kumpulnya masyarakat, pasar tradisional juga menerapkan nilai pancasilais dalam system perdagangannya, terutama dalam pengamalan sila ketiga. Berbaurnya masyarakat dari semua penjuru dan semua golongan tumpah ruah menjadi satu tanpa adanya diskriminasi dari salah satu pihak. Disinilah keunggulan pasar tradisional yang harus tetap kita jaga dan lestarikan. Persatuan di negeri ini merupakan salah satu pusaka, salah satu senjata yang dapat kita gunakan untuk mengarungi kehidupan kenegaraan yang penuh dengan pro-kontra yang  menyelimuti suatu negara merdeka, berdaulat dan sanggup berdiri sendiri.