RIKA SUWISTIN OKTAVIANA (UNS)

Aktivis dan dunia kampus adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dunia aktivis kampus adalah salah satu pintu gerbang menuju kesuksesan. Tidak sedikit tokoh yang dilahirkan dari “rahim” kampus dan dunia aktivis sebagai “pejantan”-nya. Essai ini pada dasarnya mengingatkan kepada para pembaca bahwa dunia aktivis tidak selalu menjadi penghambat karir akademik. Dunia aktivis justru dapat menjadi tempat untuk menyalurkan bakat keilmuan serta ide-ide kreatif mahasiswa. Sebaliknya dunia kampus tidak semestinya dikesampingkan ketika seseorang menjadi aktivis. Dunia kampus justru dapat memperkuat basis keilmuan dan pengetahuan seorang aktivis.

Aktivis identik dengan seseorang yang terlibat dalam perjuangan yang bersifat kolektif. Perjuangan kolektif ini berkaitan dengan adanya suatu wadah seperti organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, LSM atau organisasi sosial lainnya. Jadi tidak heran jika seorang aktivis disebut “Sang Organisatoris”.

Idealnya, aktivis sejati mempunyai sifat negarawan. Negarawan merupakan orang yang dapat mengumpulkan dalam dirinya sifat pemimpin dan sifat guru. Sifat pemimpin ini akan membuat aktivis bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, sedangkan sifat guru menjadikan aktivis mampu menjelaskan dengan tegas masalah yang ada disertai jalan keluarnya. Selain itu untuk menjadi aktivis sejati harus mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Aktivis perlu merencanakan agenda-agenda mulai dari agenda kecil sampai agenda besar. Misalnya, bagaimana mengatur jadwal dan agenda sehari-hari secara seimbang antara studi dan organisasi baik dalam hitungan minggu ataupun tahun. Ini perlu dilakukan sebagai kontrol dan perencanaan untuk mencapai tujuan.

Jadi dapat dikatakan bahwa aktivis pada dasarnya subtansial menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat. Mengapa demikian? Karena aktivis memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa biasa yang tidak mau berorganisasi.