Agus Suroso (Teknik Sipil  2010 UNS)

“Negarawan Adalah Negarawan” (-NN-)

Bersama siswa SD Islam Al Azhar 28 Solo Baru dan Komunitas Pintu Indonesia, pekan lalu kami berkunjung ke Desa Melikan di Kabupaten Kalten. Desa ini bukan hanya sekedar sentra pengrajin keramik, ia lebih mirip laboraturium raksasa program pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal setempat. Tercatat sebanyak 208 Kepala Keluarga berprofesi sebagai pengrajin keramik, maka tak heran ada ratusan rumah yang disulap menjadi bengkel-bengkel produksi sudah menjadi pemandangan wajar disetiap sudut desa.

Dahulu, produksi keramik lebih mirip sebuah tradisi turun temurun tanpa pernah ada sentuhan inovasi produk baik metode pembuatan maupun motif keramik yang dihasilkan. Perajin hanya membuat keramik berdasarkan apa yang mereka pelajari dari generasi-generasi sebelumnya.

Namun, Desa Melikan kini telah bertransformasi menjadi salah satu sentra perajin keramik yang cukup diperhitungkan oleh pasar Nasional. Bahkan sebuah laboraturium penelitian keramik telah dibangun di sana atas kerjasama Indonesia dengan Jepang pada tahun 2005, sekaligus menghadirkan ahli keramik asal Kyoto Seika University, Prof. Chitaru Kawasaki dengan segurang karya-karya monumental.

Di balik kesuksesannya, tak banyak yang tahu ada kerja-kerja tangan penuh dedikasi dari seorang putra daerah asli Solo, Indrawan Yepe. Pria lulusan seni keramik UNS itu mulai menginisiasi pendampingan masyarakat di Desa Melikan dari nol sejak tahun 1999 silam.

Sebenarnya sudah sejak lama desa Melikan menjadi desa penghasil keramik, hanya saja apa yang dilakukan warga hanya terkesan meneruskan tradisi dan monoton, tak ada sentuhan inovasi pada bentuk atau metode pembuatan. Tangan-tangan penuh dedikasi seorang Indrawan Yepe dalam membina perajin keramik telah memacu geliat ekonomi warga Desa Melikan yang kini memiliki produk bermerek “Pagerjurang” yang cukup diminati pasaran dalam negeri.

Negarawan

Sosok Indrawan Yepe mungkin tak setenar tokoh-tokoh nasional, namun dari pribadi seniman yentrik berambut gondrong itu paling tidak kita belajar bagaimana berkiprah dan mengambil peran menjadi negarawan dengan standar kontribusi dan dedikasi untuk Indonesia yang ia miliki. Ia adalah negarawan dengan cita rasa seniman. Paling tidak ada dua poin penting yang dapat dijadikan refrensi bagi mahasiswa untuk belajar bagaimana mengambil peran menjadi seorang negarawan sejati.

Pertama, seorang negarawan adalah orang yang tahu permasalahan. Bagaimana seorang negarawan mampu menyelesaikan permasalahan bangsa kalau ia sendiri tidak tahu medan permasalahan. Maka sudah selayaknya seorang mahasiswa hari ini dituntut lebih peka perhadap permasalahan-permasalahan bangsa, kemudian mengambil peran dengan berbuat sesuatu untuk mencari penyelesaian.

Kedua, seorang negarawan adalah orang yang mencurahkan jiwanya untuk memberikan solusi. Setelah mengetahui permasalahan, seorang negarawan harus mengambil posisi sentral sebagai probem solver, tentu sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Maka mahasiswa hari rasanya tak hanya cukup dengan retorika menuntut kinerja-kinerja pemerintah, namun perlu dibarengi dengan kontribusi nyata.

Negarawan tak melulu seorang politisi, bahkan banyak politisi yang tak layak menyandang gelar negawanan. Pemaknaan negarawan lebih pada profil seorang tokoh yang memiliki kontribusi kepada bangsa. Ia tahu betul apa permasalahan bangsa, kemudian ia mencurahkan sebagian besar jiwanya untuk mencari solusi. Seorang negarawan tak akan menunggu kapan sejarah memanggilnya, tapi ia akan menuliskan sejarahnya sediri sebagai seorang negarawan.

Dari Kampus untuk Indonesia. Mahasiswa adalah aset stok negarawan Indonesia masa depan. Jika sejarah lahirnya reformasi 1998 mahasisa mencatatkan dirinya sebagai aktor penggerak perubahan, maka kini sejarah kembali memanggil mahasiswa sebagai pelaku, maka persiapkan kapasitas diri melalui tangan-tangan penuh dedikasi sebagai bukti cinta kepada bangsa. Dedikasi dalam kontribusi berupa kerja-kerja sosial dan kerja intelektual adalah cara terbaik merawat Indonesia.