Nia Vita Kusuma Haji (Pendidikan Ekonomi UNS)

Belajar merawat Indonesia adalah makna luas dari belajar merawat desa kita, setidaknya begitulah interpretasi saya terhadap kalimat tersebut. Indonesia yang mana yang akan kita rawat? Bagi saya jawabannya adalah desa kita. Mengapa berpusing mengurus birokrasi negeri, mengecam pemimpin A karena tindak korupsi, atau pemimpin B yang tidak tanggap menangani bencana, sementara desa kita sendiri sebentar lagi akan diteguran oleh yang kuasa. Entah karena kemusyrikan yang masih diuri2, atau kesibukkan yang melunturkan silaturahmi.

Tak elak, Indonesia memiliki banyak desa dengan keunikan masing-masing. Tidak ada tempat di negeri ini yang tidak memiliki potensi, termasuk pula desa-desa yang kebanyakan potensinya belum tergali atau justru terusak oleh perbuatan manusia yang miskin ilmu dan harta.

Kembali ke masa lalu, ketika Jepang mengobarkan perang pada Indonesia, justru orang-orang desalah yang membantu mematahkan serangan musuh dengan segala sesuatu yang mereka punya meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki apa-apa. Para pria bersama tentara angkat senjata, wanita dan anak-anak memasak untuk memenuhi kebutuhan logistik pejuang. Hal menakjubkan disini adalah, orang-orang desa tak punya pamrih dalam membantu pejuang mengusir penjajah, mereka hanya berusaha menunjukkan loyalitas pada tumpah darah.

Sejak zaman dulu desa sudah memiliki peran sedemikian hebat pada Indonesia, namun ketika merdeka, justru Indonesia lupa memajukan desa. Bukan berarti tak berdaya, desa masih memiliki pemuda yang menuntut ilmu di banyak universitas ternama. Jika kita mengatakan, X pergi sekolah ke luar negeri, setelah ia lulus tidak mau kembali ke pangkuan ibu pertiwi karena kehebatannya tak diakui di negeri sendiri. Tidak usah jauh2, bukankah pemuda desa juga melakukan hal yang sama terhadap tanah kelahiran mereka? Bangunlah teman-teman mahasiswa, kita melulu menyindir Indonesia begini, pemimpinnya begitu, namun kita lupa tentang Indonesia kecil kita, desa.

 

Mengapa masyarakat desa berkembang begitu lambat? Layaknya Indonesia, masyarakat desa miskin ilmu, mereka butuh ilmu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki desa, merawat desa, memutus lingkaran setan bernama kemiskinan, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti judi, mabuk masal dan sebagainya. Tidak perlu muluk-muluk, yang perlu kita lakukan sederhana, bina tetangga kecil kita yang orang tuanya miskin ilmu maupun harta, orang tua yang tidak tahu cara membesarkan anak dengan benar, atau orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak mereka sampai jenjang pendidikan tinggi.

Mengapa bidikan saya justru anak2 kecil bukan pemuda? Menurut saya, ketika pikiran seseorang masih belum menampung banyak doktrin, hal-hal baik yang diajarkan orang lain padanya akan mengendap dan selalu diamalkan, sehingga lambat laun menjadi kebiasaan. Lagi pula, apa yang diharapkan dari pemuda-pemuda desa yang terlanjur rusak, karena pemuda dizaman ia masih balita tak ada yang mau membinanya. Ini bukan program KKN yang seorang mahasiswa mengerjakan karena tuntutan, namun ini panggilan hati, dengan ikhlas memperbaiki dari sesuatu yang kecil disekitar kita, lingkungan kita hidup, desa kita.

Bagaimana pembinaan itu dilakukan? Sederhana, luangkan waktu sibuk kita untuk mengajarkan mereka tentang dunia, tak hanya mengenai pelajaran disekolah, namun juga pelajaran kehidupan seperti cara merawat lingkungan, sikap yang baik pada manusia, mengagungkan Tuhan pencipta alam, meyakinkan mereka mengenai kekuatan mimpi. Pelajaran kehidupan yang kita sebut sebagai pendidikan karakter, untuk Indonesia yang baik melalui putra putri desa yang berpendidikan.