Ismira Suryaningsih (Agroteknologi 2012 UNS)

Seperti yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa bahwa asas ekonomi yang dianut Indonesia adalah ekonomi kerakyatan. Ekonomi yang berkeadilan dan menyentuh segala aspek lapisan masyarakat yang tak hanya sekedar mementingkan keuntungan pribadi semata namun sarat akan makna sosial dan budaya. Begitu pula pasar tradisional yang  tidak hanya menjadi markas ekonomi kerakyatan bangsa Indonesia, namun juga sebagai markas tumbuhnya rasa kesetiakawanan sosial dan budaya. Tempat dimana berkumpulnya masyarakat dari bermacam lapisan yang berimpit mengais rizki yang kini semakin sulit didapat karena tekanan dari berbagai pihak.

Globalisasipun mendorong kebijakan perekonomian bangsa bergerak ke arah kapitalis. Spekulan-spekulan bermodal besar yang seharusnya bergerak dan bersaing di tingkat menengah ke atas memaksa masuk dilingkup menengah ke bawah  yang semakin menekan pemodal kecil khususnya pelaku di pasar tradisional. Walaupun sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern nyatanya masih banyak dilanggar baik oleh pihak pemerintah maupun pengusaha.

Sebagai generasi muda yang mengaku mencintai bangsanya, mahasiswa seharusnya tidak hanya duduk terpaku dan melihat perlahan demi perlahan kehancuran pusat perekonomian rakyat Indonesia tersebut. Matinya pasar tradisional  mengindikasikan matinya ekonomi kerakyatan yang di elu-elukan bangsa Indonesia sebagai asas ekonomi yang berkeadilan. Setidaknya kita harus ikut turun tangan untuk peduli akan nasib ekonomi kerakyatan  Indonesia yang semakin tergerus oleh kapitalis liberalis.

Mahasiswa  seharusnya bisa meredam segala gengsi untuk tidak terikat dengan ritel-ritel atau toko-toko modern yang semakin menjamur dan memperkaya kantong individu yang bermodal besar. Ikut bertransaksi dipasar tradisional secara berkesinambungan menjadi langkah mudah yang bisa kita lakukan. Ikut bertransaksi di pasar tradisional berarti kita ikut mendukung produk anak bangsa, mempertajam kepedulian sosial dan ikut melestarikan budaya setempat yang timbul karena interaksi sosial. Diharapkan dengan timbulnya rasa cinta, maka selanjutnya akan timbul kemauan untuk melakukan inovasi sehingga pasar yang sering dikaitkan dengan kata tradisional menjadi pasar budaya yang salah satu identitas bangsa. Dengan ini Mahasiswa sebagai generasi cendekia muda akan menjadi sosok yang dapat memberikan sumbangsih masyarakat kelak baik dari aksi maupun kepeduliannya.