Nurul Khotimah (P. MIPA 2011 UNS)

Indonesia kini telah terombang-ambing dengan karakter kepemimpinan bangsa ini. Arus informasi yang begitu derasnya menyapa semua elemen masyarakat Indonesia membuat Indonesia yang  menurut sejarahwan “walapun Indonesia memiliki banyak pulau yang terpencil, namun masih satu kesatuan seperti asas Bhineka Tungga Ika”, kini hal tersebut tidak lagi menjadi pandangan bagi masyarakat saat ini, pandangan itu seakan kabur di tengah arus asing yang mementahkan pemikiran masyarakat.

Andaikan……..

Kepercayaan dan keasaan itu datang, ketika banyak pemuda idaman soekarno ingin mangbdikan jiwa, raga, dan pemikirannya untuk bangsa ini, namun harapan itu seakan punah ketika para pemuda hanya memakmurkan jiwanya, istananya, dan menegakkan punggungnya secara berlebih.

Kemantapan mimpi sebagai Bangsa yang besar itu tercapai, ketika para pemuda idaman Soeharto banyak yang ingin mengayomi dan  mnesejahterakan masyarakat, namun mimpi  itu kini pupus ketika melihat pemuda bangsa yang semakin waktu semakin mencekik rakyat kecil dengan keduduannya.

Kecerdasan rakyat dalam berpikir dan bangsa yang diakui prestasinya di kancah dunia itu terwujud, ketika para pemuda idaman Habibie menjadi pemuda cendikiawan yang jujur dan pasti langkahnya untuk kebermanfaatan rakyat dan kemajuan bangsa, namun mimpi itu kian hilang setelah sekian lama karakter jujur itu mulai rapuh dari genggaman para pemuda Indonesia.

Bangsa yang mumpuni dan berakhlak mahmudah itu terpatri, ketika para pemuda idaman Abdurrahman Wahid datang berbondong-bondong menyerahkan segenap jiwa dan ruhaniyahnya untuk kebaikan bangsa dan kemaslahatan rakyat, namun harapan itu sirna setelah rakyat dengan shohih melihat para pemuda merampok paksa dirham bangsa ini untuk kepuasan nafsunya.

Bangsa berbasis ekonomi kerakyatan  itu akan terpenuhi, ketika pemuda idaman Megawati bergerak bersama untuk menjunjung raksasa ekonomi kemandirian rakyat, namun harapan itu kini menjelma menjadi singa buas yang tiap saat  menyerang dan memangsa nurani pemuda itu.

Bangsa dengan kemakmuran rakyat yang tinggi dan kepercayaan bangsa-bangsa dunia yang mengakar itu akan terwujud, ketika pemuda idaman SBY cekatan memebenahi perhiasan-perhiasan bangsa ini, namun mimpi itu kini menghilang tiba-tiba ketika jundi-jundi negara hanya melamunkan mimpi dan terdiam di zona aman kekuasaannya.

Harapan-harapan yang seakan membakar batu bara pemuda, kini hilang tenggelam dalam kenyamanan yang tidak pernah hilang dari dalam diri seorang manusia, membekukan sumber ketangguhan pemuda, dan menyumbat aksi nyata para pemuda yang penuh keidealan sosok pemuda bangsa ini. Harapan yang kini dinanti-natikan sesosok Ibu Pertiwi, hanya pemuda yang mengenal dirinya, darimana dirinya, dan berbekal darimana dia bisa tumbuh disegani banyak idolanya.

Harapan Ibu Pertiwi tertuang pada pemuda dengan karakter Al Fath, pemuda yang penuh dengan kemenangan. Karakter Al Fath itu menjadi sumber inspirasi pada sesosok Al Fatih yang senantiasa menjadi pemuda panutan sepanjang zaman. Pemuda yang tangguh dalam menghadapi musuh, pemuda yang kokoh apabila diterjang cobaan, dan pemuda yang penuh optimis dalam menegakkan kebenaran yang harus ditegakkan. Walaupun sosok Al Fatih tumbuh dari zona nyaman, namun karakter sebagai seorang pemudalah yang mendorong Al Fatih untuk bergerak mengarungi dan merasakan rintihan hidup untuk memimpikan menjadi seorang pemimpin tangguh, kokoh, optimis, dan tidak terkalahkan di zamannya. Andaikan satu saja pemuda bangsa ini yang mendarmakan karakter Al Fath, mungkin bangsa ini akan menjadi bangsa yang disegani penduduk dunia saat kini dan nanti.