Aninditya Verinda Putrinadia (Pendidikan Dokter 2013 UNS)

Indonesia… Indonesia… Negara kaya sumber daya, sumber daya alam, sumber daya manusia, Indonesia punya semua. Banyaknya jumlah sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia memang sebanding, sama banyak jumlahnya. Namun sayang, sangat disayangkan kepedulian masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan dan membudidayakan sumber daya alam yang ada kurang maksimal. Akibatnya banyak pula sumber daya alam di Indonesia tumbuh liar, tanpa perawatan, tanpa kepedulian, tanpa perhatian. Ada yang lenyap, ada yang diambil alih kepemilikan oleh negara lain, ada yang tetap berada tanpa suara, semua karena kurangnya kesadaran dari masing-masing individu terhadap keadaan sekitar. Semakin hari semakin banyak orang acuh tak acuh terhadap perawatan berbagai kekayaan alam di Indonesia, miris.

Sumber daya alam yang ada di Indonesia memang tak memiliki perasaan, mereka tak bisa mengungkapkan apa yang mereka inginkan, mereka tak bisa berinteraksi layaknya manusia menjalani hidup, tetapi sebagai mahasiswa yang notabene disebut sebagai “agen perubahan” seharusnya kita bisa menjadi pemimpin dalam mengubah kebiasaan masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan tersebut. Di era globalisasi seperti sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Semakin banyak pandanga-pandangan baru yang dapat dijadikan referensi dalam merawat dan mengolah kekayaan alam Indonesia. Seharusnya ini bisa menjadi motivasi dan bantuan dalam menjaga Indonesia agar tetap kaya, kaya akan alam.

Jika Indonesia tak mampu mengikuti ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di negara lain, mungkin dengan caranya sendiri Indonesia dapat tetap menjaga kekayaan alamnya, “tradisional” ya secara tradisional. Berpikir pada keadaan “pasar tradisional” bukan mengejar angan “pasar modern” yang sulit diraih tanpa pemimpin perubahan. Banyak pengertian atas arti pasar tradisional, pada pandangan saya kali ini saya memaksudkan pasar tradisional sebagai lahan kesederhanaan bukan tempat pertukaran barang atau jasa. Para pemimpin bangsa saat ini seharusnya dapat kembali menengok ke belakang ke masa kejayaan Indonesia melalui kesederhanaan dan ketradisionalan, mencari kunci kesuksesan berhasil di lingkup kecil untuk dikembangkan menjadi kesuksesan besar. Mungkin tertundanya keberhasilan Indonesia dalam segala hal sampai saat ini karena keegoisan individu untuk menggenggam pasar modern, melupakan segala kesederhanaan di pasar tradisional.

Semua proses pembelajaran dimulai dari hal-hal kecil tidak instan, susah rasanya jika terfokus langsung memikirkan upaya-upaya besar dan memperoleh keberhasilan dengan cepat dan mudah. Semuanya butuh perjuangan, termasuk dalam merawat Indonesia. Alam merupakan bagian penting pendukung bertahannya keberadaan Indonesia. Untuk merawat kekayaan alam tersebut, semua pihak dari anak kecil hingga orang tua harus turun tangan dengan melakukan kepedulian-kepedulian kecil terlebih dahulu dengan alam sekitarnya. Bukanlah suatu masalah jika hal itu dilakukan dengan cara sederhana, seperti zaman dahulu, memulainya dengan tradisional, walaupun tidak ada salahnya juga jika ketradisionalan itu dipadukan dengan kemodernan. Semaju apapun negara-negara lain, setinggi apapun dampak yang Indonesia peroleh dari kemajuan tersebut, ciri pasar tradisional Indonesia tidak boleh terhapus. Melalui pasar tradisional-lah Indonesia dapat berkembang, dapat maju, dapat berusaha untuk tetap harum menjadi bagian dari dunia ini.