Mekar Maratus S (PBS 2012 UNS)

Masa depan dapat menampakkan berbagai kemungkinan yang terduga maupun yang tak terduga. Kita telah melihat berbagai tanda yang tampak di masa sekarang. Salah satunya, dunia menjadi semakin mengkerut dalam peta global akibat dampak kemajuan teknologi dan informasi. Setiap Negara menjadi sangat terbuka terhadap pengaruh Negara lain. Ruang dan waktu senantiasa berubah dan bergerak begitu cepat membuat mata kita terbuka, telinga mendengar dan merasakan aroma yang tak dapat dijangkau dengan alat indera kita. Pengetahuan berkembang makin luas, informasi dapat diakses dengan dengan mudah, memanjakan penggunanya.

Bagai dua sisi koin yang saling membelakangi, di balik kemudahan yang ditawarkan dalam masa globalisasi ini, zaman ini pun melahirkan suasana tidak menentu, berimbas pada hancurnya tradisi, ketahanan nasional dan semangat kebangsaan yang memudar.

Tidak dipungkiri, derasnya arus informasi dari luar yang masuk ke dalam lingkup masyarakat Indonesia ternyata lebih banyak dibanding perputaran informasi mengenai Indonesia itu sediri, khususnya tentang identitas kebangsaan. Akibatnya, secara perlahan, sedikit demi sedikit generasi Indonesia telah mengalami pengikisan identitas kebangsaannya sendiri. Entitas kebudayaan generasi saat ini memudar digantikan dengan kebudayaan Negara lain.

Bukti bahwa generasi saat ini memiliki identitas kebangsaan yang lemah adalah sikap bangga mereka terhadap produk dan segala hal yang berbau luar negeri. Senang mengenakan dan memakai barang/jasa dari luar negeri bahkan untuk keperluan sehari-hari mereka lebih memilih dan menghargai sesuatu yang berasal dari luar negeri.

Selain itu, bukti lain adalah generasi saat ini pun dalam berbicara banyak sekali menyisipkan frasa-frasa bahasa inggris, bukan menggunakan bahasa Indonesia yang jelas-jelas adalah bahasa negaranya sendiri. Dalam pikiran mereka telah tertanam anggapan bahwa apapun yang dari luar negeri itu lebih “keren” daripada sesuatu yang berasal dari Indonesia.

Perubahan yang terjadi hamper terasa tidak mungkin dielakkan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana menyikapai perubahan dan menyesuaikan keadaan. Kita tak akan menemukan jalan buntu selagi masih mau menggunakan akal kita. Kita harus terus percaya dan berharap di balik rasa cemas, khawatir, dan ketakutan yang mendera. Karena sebuah peradaban yang unggul dimulai dari munculnya pemikiran-pemikiran besar.

Sekarang atau akan tetap menyia-nyiakan waktu jika kita tak langsung berbenah diri. Masyarakat Indonesia harus kembali menghargai sejarah, budaya dan identitas kebangsaan, yang salah satunya adalah kembali menggunakan produk-produk dalam negeri. Kita kembali pada pasar-pasar tradisional dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kembali ke pasar tradisional adalah kebanggaan sebagai warga Negara Indonesia. Para mahasiswa-lah, aktivis-lah yang harus tampil menjadi pioneer dalam langkah pembenahan ini, menunjukkan citra anak muda Indonesia sebagai duta budaya, memberikan kesan dan anggapan bahwa muda berprestasi juga berarti menghargai kebudayaan sendiri, memperdayakan ekonomi kreatif berbasis dalam negeri sehingga masyarakat Indonesia bangga menggunakan hasil karya bangsa. Aku cinta Indonesia, aku cinta produk Indonesia.