Ahmad Shofwan Muis (Psikologi 2011 UNS)

Manusia-manusia di negeri kita sedang gandrung dengan segala hal yang berbau modern dan praktis. Tak percaya? Coba tengok dapur rumah kita di pagi hari. Ada apa di sana? Bahan makanan. Dari mana bahan makanan tersebut? “Dari pasar”. Tunggu dulu, itu jawaban untuk beberapa tahun yang lalu. Untuk masa sekarang, “Di mall dong” adalah jawaban yang lumrah kita jumpai. Sehabis berolahraga, kita meminum minuman elektrolit. Darimana asalnya? Toko modern di seberang jalan sana adalah jawabannya.

Sekilas tampak sangat menguntungkan bagi kita. Menjangkaunya mudah, berbelanja bisa dengan nyaman, dan begitu masuk pintu disapa dengan sapaan hangat yang sebenarnya tampak lebih seperti robot yang memutar rekaman suara karena hamper sama di tiap tempatnya. Padahal, uang yang kita masukkan di gerai tersebut hanya akan mengalir kepada satu muara. Yaitu investor atau pemilik gerai yang tentunya dikuasai pemodal asing. Dan beberapa receh rupiah yang mengalir ke para pegawai yang tentunya tak seberapa.

Lantas dimana tempat untuk orang-orang kita? Dimana tempat Indonesia? Padahal ini adalah rumah kita sendiri. Kita adalah tuan rumah yang terseok-seok di kandang sendiri.

Coba bayangkan ketika kita berbelanja di pasar tradisional. Jika di satu pasar tradisional ada 200 toko, sudah bisa dipastikan pemiliknya juga adalah 200 orang yang berbeda. Dan tentunya dengan berbelanja di pasar tradisional, kita dapat “membagi rezeki” yang kita miliki.

Bagi beberapa orang mungkin berbelanja di pasar tradisional tampak tidak keren. Becek, dan sumpek, tapi ada ojek pastinya. Tapi coba kita lihat sisi lainnya. Dari sisi budaya. Pasar tradisional ini sangat sesuai dengan budaya kita, Indonesia. Yaitu budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivisme. Dari berbelanja di pasar tradisional, kita dapat bertransaksi tawar-menawar, yang di budaya kita yaitu saling menguntungkan. Kita bermusyawarah untuk mengambil jalan tengah. Ada komunikasi dua arah di sana. Beda halnya dengan pasar modern seperti mall, supermarket atau gerai minimarket simpang jalan. Tak ada kesempatan untuk tawar menawar sehingga menutup kemungkinan untuk berkomunikasi. Di sana, segala produk sudah dibanderol harganya secara “otoriter” oleh pihak toko, karena di sana pembeli tak memiliki kuasa akan harga-harga tersebut. Pembeli atau konsumen hanya bisa tunduk kepada harga yang tercantum di rak jualan.

Dari segi jam operasional atau pemanfaatan waktu. Pasar tradisional sangat sesuai dengan budaya kita. Mewariskan nilai-nilai lurhur dari nenek moyang. Yaitu pekerja keras. Buka di waktu dini hari di saat orang-orang lain masih terlelap. Dan sudah ditutup menjelang malam. Dan tentunya pasar tradisional dapat menggambarkan budaya pergaulan di masyarakat kita yang sangat melindungi para wanita. Yang dalam budaya Jawa ada kalimat yang menyatakan “Wong wedok wis bengi isih dolan, ora elok!”, yang artinya “Perempuan di hari sudah malam tapi masih di luar, itu tidak baik!”. Beda halnya dengan pasar modern mini market yang jam operasionalnya tak kenal waktu.

Bukan hanya itu,

Dari segi lingkungan. Di pasar modern, segala halnya dibungkus dengan plastic, alumunium foil dan segala kawan-kawannya. Pernahkah kita belajar Ilmu Pengetahuan Alam? Jika pernah, sudah pastilah kita bisa menarik kesimpulan dari hal tersebut. Sedang di pasar tradisional? Dibungkus dengan daun pisang, ataupun kertas korang yang tentunya bisa lebih bisa dicerna oleh perutnya bumi.

Dari sisi efektivitas. Di took modern atau mall, kita terkadang menjadi lupa akan skala prioritas. Di saat dating kita hanya akan membeli barang A, tetapi segala tehnik psikologis yang digunakan mall, kita bisa terbuju rayuan diskon dan penawaran-penawaran lainnya. Hingga kita membeli barang-barang lain yang sebenarnya tak perlu. Dan mungkin cenderung mengejar prestos dalam berbelanja. Bukannya memanfaatkan uang ,tapi lebih kepada menghamburkan uang. Beda halnya dengan pasar tradisional, kita bisa focus terhadap tujuan kita sedari awal datang ke sana.

Lantas, masih beranggapan bahwa (took) modern itu keren?