oleh Yuli Ardika Prihatama

Tak Terduga

“Aku ingin naik pesawat”. Itu teriakan keras yang terlontar dari lisan kami ketika kami bertiga berdiskusi dalam rangka membuat Karya Ilmiah Mahasiswa Penalaran Green Festival 2012 yang dilaksanakan oleh UKM Penalaran Universitas Andalas Padang. Kala itu, masih bulan Maret.

Sambil bercanda ria di selter FKIP kami akhirnya menemukan sebuah gagasan yang fenomenal, yakni tentang Sistem Pemanfaatan Kembali Air Bekas Wudhu. Sederhana sih, tapi ternyata dengannya Allah kemudian memperkenankan 2 dari kami melanglang buana ke tanah seberang.

Tepat tanggal 11 April 2012, ada sebuah berita yang luar biasa. Karya kami lolos menjadi 10 besar finalis di Universitas Andalas Padang. Hah, impian kami untuk pertama kali terbang naik pesawat akan segera terealisasi. Namun, bukan birokrasi kalo ga ada tantangannya. Ada saja masalah pengurusan uang transport dan berbagai tetek bengek administrasinya. Dekatnya waktu pengumuman dengan waktu final membuat kami harus memutar otak untuk mendapatkan uang tiket pesawat. Akhirnya melalui sebuah lobi tingkat dewa-dewi, di Acc-lah 1 tiket dari Pembantu Dekan III dan II FKIP. Alhamdulillah, dapat 1 tiket, meskipun akhirnya kami harus hom pim pah untuk menjadi salah satu wakil di final.

Diputuskanlah nama Krisnawan sebagai kandidat terkuat. Dengan dukungan doa dan segala persiapan yang ada. Dengan bantuan Mr. Bery, satu paket tiket PP Solo-Padang dapat diperoleh dengan harga relative murah meskipun dadakan. Sampai akhirnya hari Rabu, waktu keberangkatan yang dinanti-nanti oleh kami bertiga. Akhirnya kami berbagi tugas, Dika mengantar Krisna ke Bandara Adisumarmo, Erny mengurus administrasi di Mawa UNS, dengan dibantu Nisaa semuanya beres dan mengejutkan mereka membawa sesuatu yang mengejutkan.

Ga kepikiran deh! Niat Dika nganter Krisna doang, eh malah dikasih surat tugas plus uang saku buat terbang. Haaa, gila, pengen nangis karena haru. Lebih-lebih melihat senyum dua orang yang telah capek-capek mengantar surat tugas dan uang transport tadi. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang dengan lembut melambaikan tangan kea rah kami. Akhirnya aku pesan tiket juga, dan terbang ke Jakarta bersama Krisna. Aku bingung dengan diriku yang tidak membawa persiapan apa pun, kecuali baju yang melekat dengan peralatan kuliah standar serta uang saku di kantong dan ATM. Apalagi jas almamater kampus yang begitu memesona itu, tak terbawa. Gila, masak sampe Padang harus belanja ganti dulu. Tapi ternyata rencana Allah jauh lebih indah.

Antara Jakarta dan Padang (Rabu, 18 April 2012)

Sesampai di bandara Soetta (Soekarno-Hatta), aku langsung memburu tiket ke outlet Lion Air untuk jurusan Padang. Yah, yang tiket murah sudah habis. Tinggal tiket super mahal yang akan ke Padang hari itu. Akhirnya aku pesan tiket yang paling murah untuk rute Jakarta-Padang, coba deh pakai Sriwijaya Air. Tapi berangkat besok siang. Tak apalah, biarkan Krisna menjejakkan Padang dahulu.

Kami sempatkan jalan-jalan sampai waktunya Krisna kembali boarding di Bandara. Demi mencari lapak makanan yang murah kami rela nggembel jalan ke sana kemari di sepanjang kawasan pinggir bandara untuk mendapatkan makanan yang murah (tapi ya tetep mahal dibandingkan Solo). Akhirnya kami berpisah!

Krisna melanjutkan perjalannya bersama Lion Air (pesawat pertamaku coy). Dan aku bingung di sebuah masjid sendirian. Kontak teman-teman desa yang jadi urban tidak ada yang mengangkat (lagi kerja keras kali). Akhirnya ada jawaban dari salah satu teman dekatku. “Bro, ntar malam nginep ditempatku aj”. Alhamdulillah, tidak jadi nggembel di Bandara deh.

Malam itu kuhabiskan waktuku untuk bercerita dan sambil melepas lelah di kontrakan kawanku yang kecil dan sederhana. Hemm, jadi tidak enak. Istrinya jadi repot harus nyiapin ini itu gara-gara aku. Sampai-sampai Tarmudi, nama temanku itu, mau memberikan 2 buah kaos n baju batik buatku. Alamak, udah numpang, ngrampok pakaian pula. Saat mau tidur, akhirnya Krisna SMS. “Hoi, aku udah nyampe bandara Internasional Minangkabau”. Alhamdulillah, lega rasanya.

Pagi-paginya aku segera bergegas pergi ke Bandara, karena temanku juga akan segera kerja, plus malu juga ntar malah diberi macam-macam lagi. Wah, perjalanan keren, ketemu sopir taksi Blue Bird yang keren. Orang Ngawi coy. Bapaknya bijak menasihatiku dan memberikan berbagai informasi yang bermanfaat untuk masa depan. Terima kasih Bapak (aduh aku lupa namanya).

Sesampainya di bandara agar tidak boring, aku segera mencari mushola. Dhuha, tilawah, baca-baca buku. Alhamdulillah, stiap aku pergi pasti tak lupa bawa mushaf dan buku bacaan. Dan kali ini kebetulan juga bawa lepi. Ah, musholanya enak, toiletnya juga sangat nyaman. Betah rasanya di Soetta. Sambil mengerjakan bebarapa konsepan, pesen tiket pulang ke Mr. Bery, akhirnya sampailah waktunya boarding untuk penerbangan ke Padang. Kawanku krisna udah SMS terus, kapan aku akan datang. Final telah dimulai. Aduh, gimana lagi. Aku berangkatnya jam 12. Dan ternyata ada delay yang cukup lama. Garing deh. Ternyata pesawat juga mengenal terlambat tah.

Dan setelah boring nunggu si besi terbang Sriwijaya Air dan melihat kemarahan penumpang, akhirnya datang juga. Dan perjalanan ke Padang dimulai. Bismillah. Allah Maha Besar. Aku tak tahu sedang apa kawanku di sana, gelisah menungguku sambil melayani para pengunjung ekspo yang makin ramai di stan kami.

Minang, I’m Coming (Kamis, 19 April 2012)

Kurang lebih 1,5 jam, si besi terbang mengudara hingga akhirnya sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Bangunan yang berciri khas rumah Adat Sumatra Barat, Rumah Gadang. Seperti bangunan di Adisoemarmo yang berbentuk joglo seperti rumah adat Jawa Tengah. Tanah Minangkabau yang selama ini hanya ada dalam ingatanku dan cerita roman balai pustaka hingga Negeri 5 Menara akhirnya benar-benar kusaksikan.

Sampai di sini boring lagi nunggu jemputan panitia. Ah, Krisna makin kesepian menanti kedatanganku. Dia sempat tersenyum karena dapat undian paling akhir. Ternyata aku pun datang telat. Sambil menahan gerutu, datanglah mobil yang menjemputku. Alhamdulillah, bisa segera ke Universitas Andalas.

Di sepanjang perjalanan, aku merasa sedikit kecewa, karena kota Padang tak seindah bayanganku. Dalam bayanganku bangunan rumah-rumahnya adalah rumah Gadang. Ternyata justru mirip perumahan saja. Aku sadar, kota ini telah mengalami modernisasi. Sambil menahan boring karena ga nyampe-nyampe, aku SMS-an dengan 2 temanku yang khas (karena aku ga di urus panitia, mereka sibuk ber-2-an sih).

Alhamdulillah, sampailah aku di Universitas Andalas, sebuah kampus megah yang kokoh berdiri di kaki bukit (aduh lupa lagi namanya). Dan sesampai di sana, rangkaian final telah selesai. Praktis Krisnalah satu-satunya finalis sesuai dengan planning awal kami. Dan aku akhirnya mendeklarasikan diri sebagai pelayan tuan muda Krisna. Semua memberikan hikmah tersendiri, di mana kekompakan kami di Solo sebelum final, terbukti menjadikan Krisna sanggup berjuang sendirian dengan bermodalkan apa-apa yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari.

Kami bertemu dengan sahabat-sahabat baru dan beberapa sahabat lama yang sering ketemu di lomba atau di forum layaknya balap F1. Rival sama Cuma beda arena. Ada dari UNY 2 tim, Unej, Stikes Aisyiah Jogja, ITB, UNP, Unand sendiri., dan IPB. Ada Septian Suhandono, bos Forces yang sudah sampe bosan ketemu dia melulu. Semua asyik dan konyol.

Setelah kami puas foto-foto di aula gedung PKM Unand, tempat final tadi, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi kampus Unand. Amazing, keren abis. Terutama kawasan depan gedung rektorat Unand. Di sana kami bisa memandang laut di kawasan samudra Hindia dengan leluasa. Indah sekali kawan! Setelah capek berfoto-foto kami pulang ke penginapan. Hah, aku terkejut, asrama haji Tabing yang dijanjikan panitia ternyata adalah asrama sederhana di pinggir kota yang sangat minim fasilitasnya. Bahkan airnya saja tak lancar. Tapi segera kulipur diriku, aku beruntung sudah bisa ke Padang gratis.

Bukittinggi, Kota 2 Lapis (Jumat, 20 April 2012)

Hari kedua di Padang diisi dengan field trip ke Kota Bukittinggi. Yah, keren, kota yang sering diceritakan banyak melahirkan para pemimpin bangsa dan negarawan akan kukunjungi. Bahkan ia adalah kota yang pernah menjadi pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Dengan bus kampus yang keren, dan sopirnya yang kekar, kami diajak berkeliling melewati jalan-jalan mengular menyisir pinggiran gunung Marapi. Indah sekali kawan. Di sini sangat mudah dijumpai pohon kelapa. Iyalah secara semua masakan Padang pasti pakai santan soalnya.

Di kota ini nuansa Rumah Gadangnya lebih terlihat. Aku suka. Suka sekali. Dan akhirnya mobil kami berhenti di sebuah kawasan mirip Grand Canyon (kayak pernah lihat aj). Ternyata kami berhenti di kawasan wisata lubang Jepang. Kenapa Lubang Jepang, karena ternyata 80 % kota Bukittinggi, bagian bawahnya adalah lorong-lorong panjang yang saling terhubung. Konon katanya ketika Jepang berkuasa di Indonesia, daerah tersebut menjadi basis pertahanan yang kokoh. Ribuan tengkorak manusia yang dikubur masal di salah satu lorong menjadi saksi bisu pembantaian para tentara Jepang kepada bangsa kita yang dijadikan romusha. Itulah mengapa di kota ini tidak boleh dibangun bangunan yang tingginya lebih dari 5 tingkat. Karena ratusan meter di bawahnya ada lubang-lubang bersejarah.

Layaknya mahasiswa yang memang hobi nekat, kami semua turun dan meninjau kawasan lorong yang dekat dengan pintu masuk. Ternyata luar biasa. Aku kagum dengan perencanaan orang Jepang dalam mengatur siasat perang. Lubang yang dibangun ini benar-benar kokoh. Tidak tembus resapan air. Tidak runtuh karena gempa, terbukti setelah gempa Padang sampai sekarang tidak terjadi apa dan tidak ada tanah jatuh/ ambrol. Meskipun agak serem, tapi kami merasa nyaman karena ada satu pemandu yang menjelaskan dengan sabar setiap pertanyaan kami dan maun memfoto kami. Ha ha ha

Perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota Bukittinggi. Karena bersamaan dengan hari Jumat, diputuskan kami shalat Jumat dulu di masjid Raya Bukittinggi. Kami berjalan menyusuri beberapa arena penting, seperti museum Bung Hatta, Pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Jam Gadang dan lain-lain. Amazing, di sana warga-warga yang tokonya dijaga laki-laki segera ditutup (seandainya di daerahku juga begitu). Ketaatan masyarakat terhadap Islam masih jauh lebih baik dari pada kawasan daerahku (ya iyalah). Dalam khutbah Jumat, sang Khatib menyampaikan materi yang sangat menyentuh dan materi ini adalah masalah mendasar yang sekarang sedang terjadi di mana-mana. Yakni langkah generasi muda yang mulai meninggalkan norma-norma agama. Tak hanya tempatku, Sumatra Barat yang konon menjadi penyumbang Imam terbesar di berbagai masjid raya di Indonesia, ternyata juga generasinya semakin sedikit. Semua menjadi PR dan tanggung jawab kita untuk memperbaiki masyarakat, khususnya generasi muda.

Setelah shalat jumat, agenda dilanjutkan jalan-jalan ke pasar kota Bukittinggi, dan di sana ada Jam Gadang. Jam teraneh didunia, karena angka 4 romawi ditulis dengan IIII bukan IV. Kami hanya belanja secukupnya untuk oleh-oleh di kampus, karena memang tak bawa uang saku berlebih. Dan, aku akhirnya berbelanja celana untuk mengganti celanaku yang hampir 3 hari tidak ganti. Kemudian kami foto-foto bersama di bawah Jam Gadang. Hemm, Bukittinggi, engkau banyak memberi inspirasi. Di sinilah aku dapatkan apa yang sering kutanyakan di hati ketika membaca roman Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, sampai Negeri 5 Menara. Inilah Ranah Minang, negeri para Ulama dan Tokoh bangsa ini terlahir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Setelah semua dirasa cukup, kami pun kembali ke penginapan. Di tengah perjalanan kami berhenti di kawasan Sinjai untuk membeli makanan khas di sana yang terkenan pedasnya, yaitu keripik Sinjai. Sesampai di penginapan, kami melepas lelah sesaat sebelum akhirnya makan malam bersama dan pengakraban.

Nuansa makan malam kali ini bener-bener berbeda. Semua makanan dijereng dalam satu wadah besar dan memanjang. Kami semua makan bersama di sana. Tentu saja menunya adalah makanan padang. Dan aku sangat terkesan dengan berasnya yang putih dan sangat lezat. Hemm enak sekali. Ditambah suasana yang begitu akrab, semua makin menjadi hangat dan sangat menyenangkan. Setelah itu kami melakukan pengakraban, sharing dan berbagi cerita. Banyak canda tawa yang menjadi kenangan. Semuanya terbingkai dalam wadah sebagai sahabat yang finalis PGF 2012. Aku makin mengenal berbagai keragaman manusia dan gagasan yang luar biasa untuk membangun Indonesia.

Dan kami pun tidur dengan pulas selepas itu ….

Hari yang Menentukan (Sabtu, 21 April 2012)

Ini hari terakhir kami bisa menikmati indahnya kota Padang. Hari ini agendanya adalah Seminar Internasional dan pengumuman pemenang. Luar biasa, seminar ini disambut positive oleh Pembantu Rektor Kemahasiswaan dan Walikota Padang. Bahkan Pak Walikota berkenan menjadi Keynote Speaker dalam seminar tersebut. Banyak terobosan-terobosan yang beliau lakukan untuk memajukan kota Padang. Seperti halnya Jokowi, walikota Padang ini ternyata juga memiliki langkah-langkah yang tidak biasa dibandingkan walikota yang lain. Berbagai program out of the box dia suguhkan selama masa pemerintahannya untuk membangun kota Padang. Jika benar-benar terealisasi, aku sungguh kagum dan bangga kepada beliau.

Seminar kemudian dilanjutkan oleh pembicara dari perwakilan WHO dan Kementerian Lingkungan Hidup RI. Dengan dimoderatori salah seorang guru besar fakultas Hukum Unand, seminar menjadi sangat menarik meskipun porsi bahasa Indonesia-nya lebih banyak dari pada bahasa Inggris-nya (Padahal Seminar Internasional lho).

Tibalah saatnya pengumuman kejuaraan. Dag dig dug der! Berdebar hati ini menanti keputusan panitia. Sampai akhirnya tersebutlah nama judul karya Resyster W, ya itu karya kami. Dan panitia mengumumkan karya itu mendapatkan juara III. Allahu Akbar! Aku dan Krisna begitu terharu mendengar hal ini. Aku tersenyum, perjuangan kami selama ini terjawab sudah dengan sebuah raihan prestasi yang sebelumnya masih langka diraih oleh kami mahasiswa-mahasiswa UNS, terutama yang aktif di organiasi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Dan seminar pun berakhir. Kami foto-foto bersama

Usai foto-foto dan berpelukan (cowok-cowok, cewek-cewek, ga cewok) kami segera berkemas dan menuju bus untuk diantar ke Bandara Internasional Minangkabau. Hati terasa bahagia mendapatkan sebuah capaian prestasi dari kerja keras selama ini. Ketika sampai di Bandara, sahabat-sahabat dari Universitas Negeri Padang (UNP) menyandera kami dan meminta kami semua berkunjung ke sana. Akhirnya sebagaian kami yang memang jadwal penerbangannya masih lama mengiyakan undangan mereka.

Alhamdulillah bisa berkunjung ke kampus UNP yang terletak di pesisir kota Padang, dekat laut dan kawasan pelabuhan Teluk Bayur. Di sana kami disambut keluarga besar PPIPM (semacam SIM di UNP). Kami berbagi cerita dan memperkenalkan kampus kami. Dan kami bisa belajar banyak dari UKM Keilmiahan yang usianya hampir 17an tahun itu. Keren, keren, dan keren. Karena aku dan Krisnawan dan satu tim dari UNY berangkat subuh hari berikutnya, mas Mabrur, ketua PPIPM meminta kami menginap di sana. Dan okelah, kami sanggupi asal nanti di antar ke Bandara sebelum subuh. Mereka adalah tuan rumah yang baik bagi kami. Terima kasih kawan-kawan PPIPM.

Selamat Tinggal Ranah Minang, Semoga Aku Bisa Kunjungi Kau Lagi (Ahad, 22 April 2012)

Pagi buta, bahkan kalo di sana masih dini hari, kami bergegas mengemasi barang-barang kami. Dengan 4 motor super keren, 4 pembalap dari UNP yang tak lain adalah squad PPIPM ini mengantar kami ke Bandara dengan kecepatan tinggi. Asyik dan menegangkan. Semuanya berlalu begitu saja.

Akhirnya sampailah kami di bangunan rumah Gadang raksasa itu lagi. Kami berpelukan dan berpisah di depan pintu masuk. Mereka melambaikan tangannya dan kami membalasnya. Kami segera shalat subuh dan boarding di sana. Saat matahari masih belum terbit, sang Lion Air, yang sekarang begitu ku sukai seandainya aku dapat kesempatan terbang lagi, kembali mengudara mengantar kami ke Jakarta untuk kemudian ke tanah kelahiran kami. Selamat tinggal ranah Minang. Tanah yang menjadi inspirasiku.

Sesampai di Jakarta, kami melakukan aktivitas aneh seperti yang sebelumnya, yaitu keluar mencari lapak makan pagi yang murah. Dan akhirnya kami dapat lagi. Alhamdulillah. Uang kami masih mencukupi untuk perjalanan ke Solo. Dan akhirnya kami bisa sampai ke solo dengan selamat

Itulah sepenggal kisah kami ke negeri rantau. Ranah Minangkabau yang berada di tanah seberang. Banyak kisah, banyak inspirasi, dan banyak nasihat bagi kami agar mengerti bagaimana harus mencintai Indonesia. Mana kisahmu?