oleh Erny Ratnawati

 Menapak Jejak Perjuangan Panjang Dan Penuh Tantangan Menuju   1st Winner LKTN UNTAN Pontianak Kal-Bar 2012

Selayaknya yang diingati  dan digali dari sebuah kemenangan bukanlan kenangan selebrasi tapi adalah bagaimana kemenangan itu dititi  (–Erny Ratnawati–)

Olimpiade FisikaMenanggalkan mimpi sejenak untuk terbang membawa jas almamater ke Tanah Minang, bukan berarti menyurutkan mimpi saya untuk tetap bertekad menjejak daratan lain di negeri Indonesia. Karena demikian yang mencuci otak saya,  bahwa untuk membuka mata kita, kita harus melihat dunia yang lebih luas, harus berani melompat dan tidak sekedar berkutat dimana sekarang kita berpijak. Seberkas keyakinan bahwa Allah telah mempersiapkan kesempatan lain yang sungguh luar biasa terbersit di kepala. Meski tidak tahu  kelak  darimana datangnya, saya hanya percaya Skenario Allah lebih indah daripada yang kita kira.

Hingga akhirnya, Subhanallah kesempatan itu ternyata mampir juga, hanya berselang dua minggu setelah tim SIM di Padang berhasil mendarat dan memboyong piala mungil bertera “juara 3”. Saya berkesempatan bergantian untuk jado peserta kongres ILP2MI  dan jadi nominasi presentator di Final LKTI Nasional Paper On Borderhood UNTAN Pontianak Kalimantan Barat. Borneo. I’m Coming….

Ujian diawal Perjalanan. Bismillah…..

Ingin rasanya memperpendek jarak dan membentangkan sekian ruang ruang sekat diotak saya. Rumah, Solo, Sekretariat dan Tempat dimana saya berada tentunya.

Nano nano  rasa berkecamuk, ketika hari hari menjelang keberangkatan ke Borneo. Ditengah berkejaran dengan jadwal ketemua dosen pembimbing skripsi yang berjam terbang tinggi, dan sangat sulit ditemui  dan juga di lembaga tengah  disibukkan untuk membimbing adik adik dilembaga dalam menyiapkan sebuah acara besar di mega event  SIM hingga akhirnya suatu sms menghentakkan saya. Allah memanggil salah seorang sahabat terbaik saya sewaktu SMA dengan tiba tiba (Semoga Allah melapangkan jalannya).  Pulang takziyah dan sampai rumah ,ternyata ujian datang lagi. Allah menguji kembali  dengan kondisi ayah yang tengah mendapatkan ujian sakit dan perlu perawatan.  Dua hari menemani ayah dan akhirnya, dengan berat hati saya berangkat ke Solo. Dan beberapa hari lagi saya mau tak mau harus berangkat menunaikan amanah organisasi untuk pergi ke Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat untuk hadir dalam kongres III ILP2MI Indonesia dan Final LKTIN selama 5 hari. Sebuah pilihan berat yang memang harus dijalani. Ingin rasanya bisa jadi Amoeba yang bisa membelah diri.  Hemm. Bismillah

PD3 dan Padang; Lecutan Pengobar Optimisme

Pencapaian tim KTI sebelumnya menjadi juara 3 di kompetisi di Padang membuat saya terpantik  untuk berusaha menyamai dan bisa lebih baik tentunya.  Meski tingkat kesulitan  lumayan menantang. Karya ini jujur sempat membuat gementar, akankah saya bisa mempertanggungjawbakannya dengan baik dihadapan para juri nanti???

Hemm,Tidak berhenti disana, ada yang lebih menantang ternyata. Mencoba meyakinkan dengan menyusun kata kata di depan PD3 FKIP untuk  meminta perijinan seklaigus menjelaskan bahwa saya sebagai delegas yang berangkat Insya Allah akan berusaha semaksimal mungkin, meski karya ini secara teknis jauh dari ilmu yang saya geluti sehari. Tatapan harapan bapak bijak didepan saya menguatkan saya untuk tetap bisa  optimis. Pak PD 3 pun berpesan  untuk melaporkan apapun hasilnya entah kalah ataupun menang. Dalam hati saya sedikit berbisik; InsyaAllah pak, juara (meski sekelebat keraguan membayang ketika bagan micro hydro itu melintas. Wesss…  mana bisa>>> )aha memang bayang pesimis dan ketakutaan selalu jadi si ‘Devil’ dalam jejak perjuangan. Namun, teringat ini adalah amanah, saya bertekad akan bertempur habis habisan ( ha ha lebay..) Meski saya tidak berambisi juara, saya hanya ingin melakukan amanah ini dengan kerja terbaik. Juara itu bonus belaka kelak ^_^

Bersama Si Ijo hingga Lecek dan Tragedi  Jus termahal

Akhirnya si karya bercover hijau  (si ijo) bertebal sekitar 27 halaman  menjadi jimat saya kemana mana, untuk saya baca terutama masalah teknisnya, karena memang karya ini secara teknis sebenarnya cukup jauh dari keahlian dan makanan sehari hari. Sehingga kerja ekstra menjadi makanan pokok untuk menguasainya lebih mendalam. Sembari mempersiapkan persiapan berangkat ke UNTAN, saya cukup bersyukur punya tim hebat yang saling membantu.  Ardika berlelah lelah membantu menyelesaikan masalah administrasi dan segala macam lobi dana dsb, dan krisna membantu persiapan materi (Thanks for my best team)

Sepanjang senin yang terik itu, tanggal 7 Mei 2012 seharian mengurus pembimbingan untuk adik panitia yang harus ditinggalkan beberapa hari kedepan, hingga petang menjelang, sekaligus saya berpamitan untuk berangakat keesokan harinya. Malam harinya saya gunakan untuk packing perbekalan dan kembali mencicil belajar si Ijo lagi.

Surya menyingsing 8 Mei 2012 kala itu ketika saya meluncur ke KA Balapan SOLO. Dengan menenteng sebuah koper, tas ransel butut teman setia backpackers dan tas kecil , KA Prameks jam 06.30 membawa saya menuju stasiun Maguwo  untuk menuju Bandara Adi Sucipto Jogjakarta, Jadwal Pesawat Take off jam 09.05 harus mundur beberapa menit. Planning berangkat bareng teman teman Jogja tidak jadi terlaksana karena ada perubahan jadwal pemberangakatan mereka sampai jam 11, sehingga saya terpaksa berangkat sendirian. Batavia Air selama 1 jam 20 menit mengudara membawa saya meluncur beribukilo dari Solo menerjang awan melintas pulau dan lauatan. Hem, pertama kali naik pesawat ternyata menyenangkan (sejenak kemudian saya teringat mimpi saya sewaktu kecil untuk naik pesawat, segala puji bagi Allah yang mewujudkannya dengan jalan yang indah)

Akhirnya si burung besi itu sampai juga di bandara Supadio. Bandara Internasional di Pontianak Kalimantan Barat pukul 11.30. Berjuta syukur bisa menginjakkan kaki di luar pulau Jawa untuk pertama kali. Sejenak memandang rona Kalimantan yang khas dengan ukiran dan pepohonannya. Saya menuju tempat kecil dipojok bandara

Mengistirahatkan diri di sebuah musola kecil yang unik  di bandara Supadio sambil menunggu waktu dhuhur tiba. Ba’da duhur karena lapar dan belum makan dari pagi, saya memutuskan mencari makan di  warung makan terdekat diluar bandara. Pengalaman yang unik dan konyol.. Setelah  melihat menu yang ada, naluri anak kos yang makan murah meriah ternyata masih menempel dikalimantan, saya mencoba menunjuk makanan yang paling sederhana dan juga minuman favorit es jus, dan beberapa menit kemudian seorang bapak bapak yang membayar di kasir tepat berdiri disamping saya, membuat saya tersenyum geli. 1 porsi nasi goreng dan segelas minum, si bapak harus membayar 52.000,00 (alamak… bisa mendadak miskin nich he he, batin saya, sambil tersenyum teringat jatah uang saku dari fakultas hanya 2 lembaran goceng alias 100.000,-)

Akhirnya daftar makanan yang saya ajukan saya gagalkan secara sepihak (haha), tinggal es jus saja (menanggung malu dengan mbak kasir, ah semoga dia tidak tahu. Tak apalah yang penting tidak mendadak miskin hahaha). Akhirnya ujung ujungnya ternyata saya juga lagi lagi tersenyum geli. Pertama kali menyeruput jus termahal sepanjang sejarah hidup saya. 1 gelas jus apel harus saya bayar 15.000,00 (mantappp kan?????).

Berhubung takut tergoda dengan makanan makanan mahal, saya kabur kembali ke mushola sembari menunggu panitia yang datang untuk menjemput. Panitia yang saya hubungi menyuruh untuk menunggu beberapa menit lagi. Ternyata menit versi panitia lumayan berbeda, yang ditunggu tidak datang datang hinnga akhirnya saya menjadi bak musafir hilang selama hampir 240 menit  alias 4 jam ( bukan waktu yang sebentar untuk ukuran orang menunggu kan? he he). Kesabaran saya harus diuji ditengah fisik yang mulai kelelahan dan panas bumi khatulistiwa yang membakar hampr 36 derajat Celsius. Sembari menunggu kembali saya bolak balik si Ijo yang udah mulai lecek itu. Saya coret coret dan baca berulang ulang sampai bosan setengah hidup( haiyah..). Walhasil si Ijo itu sudah mulai bermetamorfosa jadi buku yang begitu buruk rupa^_^ wk wk wk)

Akhirnya yang ditunnggu datang juga. Menyambut panitia dengan senyum yang dikhlas ikhlaskan saya naik mobil penjemput menuju Rektorat UNTAN untuk mengikuti seminar nasional perbatasan. Dalam perjalanan saya melihat bumi Kalimantan dengan eksotis daerah lahan yang luas dan hutan hutan, Mengesankan, melihat kekayaan Bumi Katulistiwa yang mempesona.

Setiba di rektorat Untan dan mengikuti sessi akhir seminar, akhirnya disaat pengumuman finalis 6 besar dari sekian banyak nominasi karya yang masuk kepanitia membuat saya berbunga bunga. 2 karya dari SIM UNS lolos di 6 besar dan akan presentasi akhir keesokan harinya. Berikut judulnya

  1. 1.      Project Pengembangan Teknology Pembangkit Listrik Micro Hidro-Power Dengan Pemanfaatan Potensi Sungai Kalimantan  Melalui Model Community Development Sebagai Solusi Krisis Listrik Daerah Perbatasan Kalimantan Barat Menuju Kemandirian Energi Perbatasan Berbasis Citizen Participant
  2. 2.      Smk Kehutanan Di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat: Solusi Cerdas Memperbaiki Kualitas Sdm Untuk Meningkatkan Kecintaan Generasi Muda Kepada Indonesia

Namun, berhubung hanya saya yang hadir sebagai penulis karya pertama, karya kedua dipermasalahkan karena tidak ada yang datang anggotanya, namun Alhamdulillah setelah melalui perjuangan dan perdebatan yang sengit dan lobi tingkat dewa dewi akhirnya karya tersebut bisa saya wakilkan untuk presentasi. Akhirnya setelah acara usai kami digiring menuju penginapan di hotel merpati Pontianak

Kamar 512  Lantai 3. Saksi perjuangan yang penuh kenangan

Bayangan hotel merpati dengan fasilitas yang serba enak dan bisa menjadi obat sejenak beristirahat untuk fisik yang sudah sangat penat ini, ternyata tidak sesuai nyatanya . Berhubung datang tergolong akhir, saya mendapat di kamar hotel kelas dua di pojok lantai 3. Ya, karena memang hanya  ada kamar sisa disana. Menaiki tangga tangga dengan hawa penginapan yang lengang. Hadeww, ternyata sangat jauh dan berbelok belok seperti berkeliling labirin. Akhirnya setelah menuju lantai 3 mencari kamar 512 sangat sulit harus melewati lorong lorong sepi dan gelap (horror mode on), Sempat terbersit kekhawatiran saya bingung kalo turun, nah memang terjadi untuk pertama kali saya turun ke bawah saya Tersesat ( aha haa). Lebih mengenaskan lagi ketika membuka pintu, kondisi kamar agak kotor dan cukup remang remang penerangannya dan ternyata juga teman sekamar saya dari ISI JOGJA belum checkin dan ternyata di lantai paling puncak itu saya belum punya tetangga kamar sama sekali. No one bro…., I’m alone ditengah deretan kamar kamar remang remang itu (sekilas seperti setting mau syuting UKA UKA dech pokonya  hehe). Lengkap sudah perjuangan bersepi sepi di kamar yang fantastis itu

Namun dikamar inilah terekam sejarah, ia jadi saksi bisu ketika saya harus menaklukkan diri sendiri di setting tempat yang kurang kondusif dalam ukuran fisik yang kurang fit. Setelah bersih bersih dan rapi rapi memang saya merasa fisik langsung drop dan melemah. Migrain menyerang, pilek, sesak, batuk batuk, panas dingin dan serak parau di tenggorokan, dan saya masih juga sendirian. Bersama bayang bayang persiapan presentasi yang masih cukup ngeblank dan minim persiapan, membuat denyut migraine di otak semakin kencang. Saya tidak boleh cengeng, begitu sejenak menyemangati diri di kesenyapan kesendirian Lantai 3 itu. Maklum kamar panitia dan finalis lain nun jauh di lantai bawah sana, sehingga saya memilih tetap dikamar saja. Kemudaian saya, sejenak bersms dengan orangtua dan teman teman terbaik saya untuk meminta dukungan dan doa agar saya dikuatkan. Karena malam ini akan jadi malam pertempuran saya untuk esok hari. Menunaikan amanah dan kepercayaan dipundak saya membawa jas almamater biru tercinta.  Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memberikan teman teman baik yang selalu menyemangati. Semoga Allah membalas kebaikan kalian…

Mencuri Waktu dan Begadang 24 Jam – (Episode heroic menaklukkan diri sendiri)

Setelah para finalis berkumpul dan peserta undangan kongres lain sudah berkumpul, pukul 20.00 WIB kami dibawa kembali menuju rektorat UNTAN. Dalam kondisi yang masih belum fit, saya memaksakan ikut. Selain diberikan pengarahan dan technical meeting, terdapat acara sarasehan, presentasi UKM Keimiahan dan acara lain lain. Acara yang digelar ini ternyata memakan waktu yang panjang, acara baru diakhiri  ketika hampir pukul 23.45 WIB. Praktislah, waktu yang saya gunakan untuk persiapan presentasi terpotong cukup banyak, karena padatnya acara. Saya hanya sempat untuk mencuri curi waktu untuk berhotspotan mencari gambar gambar dan materi pendukung presentasi esok hari. Hingga akhirnya kami kembali dan tiba di penginapan pukul 00.30 WIB. Winda dari ISI Jogja Alhamdulillah sudah datang. Namun karena kelelahan, dia langsung terkapar. Sedangkan saya? Hemm , Jangan Tanya. Kalau saya ikut ikutan segera tidur, presentasi saya esok hari tidak bakal purna pasti. Hingga kemudian saya segera kerjakan, sembari menunggu dengan sabar kiriman file file tambahan yang saya request dari teman teman tim di Solo.

Disinlah kemudian yang membuat saya terharu ketika kembali mengenangnya sekarang, membuktikan saat itu bahwa ternyata the power of kepepet bisa membuat orang jadi heroic level high (he he). Berjuang diantara badan yang semakin melemah dan mata yang menahan kantuk karena belum terpejam sama sekali 18 jam sebelumnya ternyata bukan hal yang mudah. Berjuang bersama layar si mungil (netbook), si ijo yang kucel, beberapa file dan kertas berserakan di tengah suasana sepi, malam yang dingin, kantuk menyerang bersama detik detik jam yang berdentang menuju pagi dengan isi otak yang cukup dikuras untuk mampu memahami materi presentasi yang berat dan butuh total untuk dipahami. Sesekali karena kantuk tak tertahan, saya tertidur di meja dalam hitungan beberapa menit dan akhirnya bangun lagi begitu seterusnya hingga  fajar hampir menyingsing dan kemudian adzan subuh berkumandang. Ba’da subuh, karena masih harus disempurnakan  dan ada beberapa materi yang masih harus saya cerna, saya lanjutkan kembali hingga selesai pukul 06.30 (tidak terasa, sejak terhitung hari selasa, ternyata mata ini terjaga hampir  24 jam) hemm, bisa ditebak> hasilnya adalah mata merah  karena kurang tidur dan juga sebesar mata panda. Meski begitu, justru perjuangan baru akan dimulai. Jam 07.00 Rombongan berangkat dan file presentasi harus segera diserahkan panitia.

Bismillah, ya Allah saya sudah berusaha mempersiapkan  yang terbaik sejauh yang saya mampu, berikan yang terbaik menurutMU (sejenak berbisik lirih untuk menyemangati diri kala itu, mengingat separuh perjalanan yang berat dan sudah terlampaui, sehingga jikapun gagal, saya tidak akan kecewa, karena saya sudah berusaha menunaikan kepercayaaan ini dengan sekuat yang saya bisa lampaui.

Semangat Totalitas di Pagi Terang yang diliputi Bimbang

Bis mungil itu membawa kami kembali ke ruang sidang rektorat UNTAN. Disana panitia sudah siap dengan segala pirantinya. Didepan juga berjejar tiga piala menjulang tinggi. Bayangan saya nanar memandang tiga piala itu. Menngebu ingin jadi salah seorang yang memegangnya nanti sembari nama UNS diucapkan dengan lantang. Namun sejenak saya teringat kembali  bahwa juara bukan tujuan utama, yang penting adalah totalitas dan kerja keras yang terbaik melaksanakan sebuah pikulan amanat. Teringat pesan Pak Amir sebelum berangkat,  do the best ! Pesan itu mengiang ngiang bersama kebimbangan yang tak kunjung hilang. Meskipun cukup menguasai materi yang lain, namun dari sekian materi, hal berbau teknik  yang saya paling takutkan jika ditanyakan. Meski fokus karya ini adalah program pengembangan bukan sekedar produk, celah teknis produk ditanyakan juga menganga lebar.  Saya membayangkan jika ada teman teman Tim saya para lelaki itu (maksudnya pakdhe krisna dan pakdhe dika, tentu bisa mudah diatasi, namun bagi saya itu asing sekali, apalagi masalah masalah mekanik. listrik dsb). Berhari hari saya mencoba mengakrabinya namun ternyata hingga detik detik hari H, masih banyak seliweeran  yang menghantui juga. Namun, bukan tantangan namanya kalau tidak bisa ditaklukkan. Saya harus bisa!

Saatnya  Tiba-menaklukkan tantangan itu

Pengundian pun dimulai. Saya mendapat no undian 3 untuk presentasi PLTM micro hydro dan undian 5 untuk presentasi sMK perbatasan. 3 Juri yang kualified sudah duduk manis di mejanya, 3 juri sudah bertitel doctor semua, yang satu bergelar Ph.d (maaf saya lupa nama ketiganya) . Juri berkelas yang mumpuni dan layak diperhitungkan tentunya

Satu persatu finalis tampil. Finalis pertama dari UNNES, dan dilanjutkan kedua dari UNISMUH Makasar. Ketiga giliran saya tampil, saya maju kedepan dan mulai mempresentasikan karya. Alhamdulillah segala puji bagi Allah, memberikan kelancaran hingga akhir. Tibalah saat yang mendebarkan pertanyaan dari dewan juri. Menarik sekali ketika sebelum pertanyaan utama pertama kali yang dilontarkan adalah pertanyaan, apakah saya pernah tinggal dikalimantan. Saya jawab enteng, belum pernah. Sejenak saya bisa menyunggingkan senyum, karena strategi narasi masalah yang saya paparkan cukup bisa membuat si juri cukup surprise. Mencoba meniru penulis Novel Muthmainnah yang menceritakan kota Perth dengan sangat detail dan lengkap padahal belum pernah menginjakkan kaki di Perth.Hanya berbekal kejelian meramu banyak bacaan dan sumber cerita. Akhirnya satu persatu juri mengajukan pertanyaan yang cukup sulit dan kompleks

Juri pertama bertanya tentang sisi ekonomi, pemberdayaan masyrakat dan kemandirian energi. Beliau yang doktor bidang ekonomi membeber saya dengan pertanyaan pertanyaan tingkat dewa (amboi susahnya…). Juri kedua  tentang strategi pengembangan hulu hilir (yang ini tak kalah mencekam juga). Alhamdulillah juri satu, meski terbata bata dan kedua dengan memaksa Pede menjawab dapat saya lewati dengan  lancar, efek membaca banyak banyak artikel terkait ternyata mampu membantu mengkorelasikan data dan nalar jawaban. Namun juri ketiga adalah juri teralot diantara yang lain. Setelah dengan jujur saya menjawab ketika ditanya kuliah jurusan apa dan saya menjawab dengan senyum, pendidikan bahasa Inggris. Si Bapak terkekeh usil. Saya habis habisan dibantai dengan pertanyaan teknis produk yang menjadi nightmare saya kala itu. Tampang oon seorang perempuan yang tiap hari hanya berkutat dengan kamus Oxford dan rumus grammar dan tidak tahu detail masalah kelistrikan dan dan mekanik bangunan tampaknya menjadi santapan siang yang menarik kala itu bagi si bapak. Semakin saya menjawab, maka si Bapak akan menyela dengan pertanyaaan yang lebih rumit dan panjang (alamakk si Bapak..) membuat suara serak ini semakin kelu. Pada akhirnya dengan sisa tenaga dan suara parau saya yang masih tersisa, saya menjelaskan bagan kerja itu dengan jurus Pede super abis. Mencoba menaklukan tampang ketidakpercayaan si Bapak untuk menjelaskan dengan rasional jawaban yang logis ala mahasiswa Bahasa Inggris. Subhanallah, saya ternyata bisa dan si bapak manggut manggut faham dan akhirnya terdiam (Alhamdulillah pertolongan Allah benar saya rasakan kala itu, ketika dalam sekejap terasa fikiran terbuka dan dimudahkan untuk mampu mencerna jawaban yang akan saya lontarkan, segala puji bagi Allah). Waktu Sessi Tanya jawab sudah selesai . ketika memberikan masukan dan pesan salah satu juri memberikan pesan kepada saya untuk menyempatkan berbagi gagasan saya dengan mahasiswa Kalimantan barat, dan disuruh tinggal dulu di kalimantan 2 minggu lagi bahkan dengan nyengir si bapak mendoakan saya kelak dapat jodoh orang Kalimantan Barat ( gubrakkkk apa apaan ini…^_^..)( ha ha ha, saya gentian yang terkekeh kali ini)

Saya mundur kembali  dari kursi panas, perjuangan belum usai kawan. Masih ada satu lagi amanat mempresentasikan karya satunya. Berhubung saya tidak ikut menulisnya, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Berbekal slide yang dikirim Dika dan Citra, saya fokuskan untuk memahaminya. Hemm, yang jelas lebih mudah mencernanya daripada menaklukan micro hydronya si ijo ternyata. Apalagi masalah pendidikan yang jadi makanan sehari hari dan sedikit background tentang pendidikan perbatasan  dari artikel yang pernah saya analisa dan file karya tulis yang saya cerna di layar si mungil waktu sebelumnya . Slide yang ringan juga untuk dipaparkan, membuat saya optimis bisa kembali maju dengan lebih percaya diri untuk menjelaskannya. Akhirnya setelah undian nomer 4 dari UPI Bandung  usai. Giliran saya kembali maju lagi. Meski sempat mengejutkan, kenapa saya maju lagi akhirnya saya menjelaskannya kepada hadirin dan juri. Presentasi usai dengan sukses dan tibalah saat Dewan Juri memberikan pertanyaan. Setelah juri pertama mengajukan pertanyaan dan cukup bisa saya jawab dengan lancar, akhirnya saya cukup terkaget dengan juri kedua yang segan memberikan pertanyaan, namun justru mengajak diskusi panjang tentang SMK perbatasan. Si Juri kedua beralasan, karena saya bukan penulis asli dari karya itu sendiri, membuat apa yang beliau harap dan maksudkan dari pertanyaan bisa jadi tak sesuai dengan spirit karya, meskipun juga bisa menguasai materi sekalipun. Beliau juga menyampaikan salam kepada penulis dan memberikan beberapa point masukan untuk karya ini. Tibalah juri ketiga yang akhirnya bersikap sama. Tanpa secuil pertanyaan, si Bapak justru berbagi panjang lebar tentang kondisi pendidikan perbatasan.Hingga waktu tanya jawab yang diisi diskusi habis, berlembar ilmu bisa saya rangkum juga. Alhamdulillah, meski juga sempat sedih tidak bisa purna mewakili karya tersebut dengan sempurna. Tibalah kemudian karya terakhir dari UNY tampil sebagai pamungkas finalis

Detik Detik Pengumuman Yang Mendebarkan

Usai presentasi selesai dan juri berunding untuk menentukan juara. Tiba tiba deg degan rasanya, menanti hasil perjuangan penuh liku liku itu tiba. Saya mempersiapkan menghadapi hasil yang terburuk sekalipun, karena sempat minder melihat karya finalis lain yang jauh lebih keren. DIsinilah titik puncak saya berharap, semoga keputusan terbaik adalah hasilnya. Saya pasrah dan tertunduk lesu bersama kondisi kesehatan yang sudah tidak karuan. Ingin rasanya menyempatkan diri sejenak beristirahat setelah terkuras habis energy fisik dan fikiran. Namun kondisi tidak memungkinkan.. Akhirnya waktu pengumuman tiba. Diumumkan juara mulai dari juara ketiga. UNY dengan aplikasi nasionalisme kreatifnya dan sekolah perbatasan dari UNNES ternyata menduduki peringkat kedua dan ketiga. Setelah harap harap cemas, akhirnya nama UNS disebutkan sebagai juara pertama. Saya tidak percaya sebelumnya. Namun setelah dipanggil ulang, memang Si Ijo mendapat prestasi juara pertama LKTI tingkat Nasional ini. Segala puji bagi Allah, rasanya beraduk aduk antara haru, sedih, bangga dan bahagia. Suara parau saya mendadak sembuh ( ha ahaha masak bisa?)akhirnya kami maju kedepan. Di depan, saya satu satunya tim yang maju sendirian, tim UNY dan UNNES hadir lengkap semua personilnya. Kami saling bersalaman dan mengucapkan selamat, beberapa teman baru dipenginapan yang sempat melihat perjuangan wakil jas biru telur bebek bermata panda ini, ikutan haru dan memeluk saya ( bahagia rasanya ukhuwah, meski baru sebentar kita bersua).

Harunya Merasai dan Mengingati  Jejak Perjuangan

Iringan lagu lagu nasional menambah haru prosesi pemberian hadiah. Dan saya kembali mengharu biru menerima piala yang diserahkan bapak Dewan Juri dan plakat hadiah senilai 3 juta rupiah. Rasanya bukan gepokan uang itu atau pendaraan kilau kuningan piala yang membuat luapan rasa bahagia Tapi merasai hasil dari nikmatnya perjuangan itu lebih membahagiakan. Saya membuktikan kembali kata kata yang sering saya ulang ulang  ketika memberi materi motivasi kepada adek adek saya. Sekelumit quote dari John Ruskin

Penghargaan teringgi untuk sebuah kerja keras menuju sukses seseorang bukanlah sekedar apa yang ia hasilkan, tetapi bagaimana ia  mendapat ribuan pelajaran dan berkembang karenanya (John Ruskin)

Terngiang kembali dalam ingatan. Ribuan makna, hikmah, pelajaran yang sangat membekas. Memutar waktu di jarak waktu 3minggu lalu, 3 hari lalu, 30 jam lalu dan 3 jam lalu ketika semua ini bermula dan berproses satu demi satu

3 Minggu lalu ketika Diskusi dan debat 3 orang di SAT yang tak jua ketemu juntrungnya seharian, mengotak atik karya ditengah kesibukan agenda agenda pribadi dan organisasi, merampungkan karya ketika persiapan berangkat ICCP ke Jogja  dan  dikejar merampungkan deadline karya KIM Andalas yang lolos Final. Semua kembali terngiang. Krisna yang berlelah lelah dengan ban sepeda yang kempes dan memaksa berjalan ke  SAT sekedar untuk saya  pusingkan, Si Dika yang bolak balik ke MAWA sampai jengah. Citra juga berlelah merampungkan karyanya. Semua terbayar sudah

3 hari lalu ketika harus beradu dengan ujian yang datang, kecamuk memikirkan kondisi ayah  yang tengah  berbaring sakit dan juga adik adik lembaga yang harus saya tinggalkan untuk mempersiapkan sebuah acara yang sangat besar. Beradu dengan pengurusan perijinan yang cukup mepet dengan waktu keberangkatan. Semua terbayar sudah. Kemenangan ini jadi obat pelipur bagi ayah yang belum sembuh, rona bahagia yang beliau pancarkan lewat jawaban telfon kala itu membuat saya berkaca kaca mendengarnya.

3O jam  lalu bayang ketakutan dan pesimis yang menggunung harus ditaklukkan melewati jalan jalan terjal yang saya lewati dengan serba sendirian mulai terbang puluhan ribu kilo itu, menunggu 4 jam di bandara hingga bahkan sendirian berjam jam di penginapan yang cukup remang di pojok bangunan lantai 3 dan begadang ditemani detak detik jam di kesunyian malam. Hemmm, saya belajar kita tak pernah sendirian,  karena ada Allah yang menemani. Hanya dengan keyakinan itu akan menguatkan kita. We have ALLAH! Don’t be Surrender

Hingga akhirnya 3 jam lalu ketika dengan berdebar saya mempersiapkan presentasi sebgai puncak dari perjuangan itu, menahan mata yang perih karena tidak tidur 24 jam dan badan yang masih lemah. Semua hanya karena Bismillah dan pertolongan Allah semua bisa dijalani.

Mengingat kembali  pancangan azzam untuk menunaikan amanat dengan perjuangan totalitas dan semangat mempersembahkan kerja terbaik membawa nama almamater tercinta di bumi Khatulitiwa dan kemudian memasrahkan semuanya kepada keputusanNYA

 Fa’azzam wa tawakkal ‘ala LLAH…….

n  Pontianak In Memorian 8- 9 Mei 2012