Saya dilahirkan oleh kedua orang tua yang keduanya petani. Ibu bekerja di luar negeri sebagai TKI sebelum akhirnya kembali ke desa menjadi petani. Hidup di desa yang belum tersentuh modernisasi kota membuat saya tidak mempunyai akses informasi tentang pendidikan yang memadai. Bagi saya pendidikan hanyalah tentang masuk sekolah, belajar dan bermain bersama teman. Semua berubah ketika saya masuk ke SMA terfavorit di kota saya yakni SMAN 1  Ponorogo.

Berangkat dari SMP di kecamatan Slahung yang jauh dari kota, saya menjadi salah satu dari empat anak SMP yang bersama-sama menimba ilmu di SMA terfavorit di kabupaten Ponorogo tersebut. Di SMAN 1 Ponorogo inilah saya mulai menemukan potensi yang ada dalam diri saya. Guru Bahasa Inggris sewaktu kelas X meminta saya mengikuti seleksi untuk mewakili kabupaten Ponorogo dalam lomba debat Bahasa Inggris di tingkat provinsi. Meskipun tidak mendapatkan kursi utama, saya mendapat jatah di kursi cadangan dan berkesempatan untuk ikut ke Surabaya. Sejak saat itu saya giat mengikuti lomba-lomba debat tingkat kota, regional maupun provinsi hingga akhirnya menyabet tempat terbaik kedua se-Jatim dan Bali pada tahun terakhir saya di SMA.Prestasi tersebut menguatkan saya untuk mengajukan Beasiswa Tidak Mampu dan Beasiswa Prestasidalam sekali waktu hingga biaya SPP saya selama 1,5 tahun bisa dibebaskan, mengingat orangtua saya yang sudah kembali dari perantauan sehingga kondisi keuangan kami tidak sestabil semula. Alhamdulillah, Wakasek Kesiswaan saat itu yang sudah lumayan mengenal saya di organisasi SMA dan juga kegiatan lomba-lomba sangat suportif. Saya tidak khawatir ditagih uang di dalam kelas lagi. SPP saya lunas seketika.

Suka Duka Mendaftarkan Kuliah

Semua pengalaman lomba-lomba ini ternyata tidak membuat jalan saya untuk memasuki perguruan tinggi menjadi mudah. Karena keterbatasan keadaan ekonomi (orang tua dan saya tidak mempunyai uang sama sekali pada saat itu), saya melewatkan kesempatan untuk mengamankan posisi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur PMDK. Pada saat itu saya fokus pada hasil UAN dan tidak begitu menaruh perhatian terhadap persiapan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sangat menggebu, namun saya hanya bisa menunggu hasil UAN dan mengandalkan SNMPTN sebagai satu-satunya cara untuk masuk universitas.

Suatu hari, salah seorang teman baik memberi informasi kepada saya bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. Tanpa pikir panjang, saya mendaftar bersama dengan empat teman lainnya. Saya tidak terlalu mengetahui jenis beasiswa yang saya lamar. Setahu saya beasiswa itu ditujukan untuk siswa SMA kurang mampu yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas melalui jalur SNMPTN.

Waktu bergulir dan akhirnya pengumuman UAN pun keluar. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus meskipun NEM saya hanya 49.56, angka yang tidak terlalu istimewa mengingat rata-rata siswa di SMA saya mendapat nilai NEM 50.00 ke atas. Saya tidak kecewa. Saya yakin memang itulah hasil kemampuan saya di UAN. Setelah hasil UAN keluar, saya kemudian fokus terhadap persiapan SNMPTN. Saat itu, kegiatan di sekolah otomatis berkurang drastis. Saya pun tidak tahu bagaimana nasib pendaftaran beasiswa dulu.

Penasaran dengan hasil seleksi beasiswa tersebut saya mencoba mencari tahu melalui internet. Saya mencari nama-nama penerima beasiswa yang tertera di laman web. Karena saya berdomisili di Jawa Timur maka saya mencari nama saya dibawah header panitia lokal di wilayah Jatim. Setelah berulang kali mencermati nama-nama yang ada di kolom tersebut, saya akhirnya tidak menemukan nama saya. Merasa gagal, saya sangat bersedih mengingat akan sangat membantu sekali jika saya mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, saya tetap meyakinkan diri saya untuk tetap ikut SNMPTN meskipun tanpa beasiswa tersebut. Motivasi dari kakak tingkat dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya selalu terngiang di telinga saya.

Jangan khawatir. Banyak sekali beasiswa yang bisa kalian dapatkan setelah masuk universitas.

Berbekal keyakinan tersebut saya membeli formulir pendaftaran SNMPTN Universitas Airlangga. Kabar mengejutkan datang ketika teman yang sama-sama melamar beasiswa mengatakan bahwa semua pelamar alias lima anak dari SMAN 1 Ponorogo diterima dalam seleksi beasiswa tersebut, Kebingungan saya berakhir tatkala mengetahui ternyata nama saya tercantum di Panitia lokal (panlok) 44 Surakarta. Saya mendapatkan surat pemberitahuan dari sekolah dan saat itulah baru saya tahu nama beasiswa tersebut adalah BMU (Beaiswa Mengikuti Ujian). Singkat cerita saya mendapatkan bantuan uang untuk mengikuti ujian SNMPTN dan baru akan diberikan beasiswa secara penuh dalam setahun jika kami diterima di universitas tersebut. Awalnya saya sangat terkejut karena saya harus memilih Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai pilihan pertama, padahal saya sangat mendambakan bisa menuntut ilmu di Universitas Airlangga. Ibu  meyakinkan saya untuk tetap mengambil beasiswa tersebut. Beliau meyakinkan jika menuntut ilmu bisa kita lakukan dimanapun. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil dua jurusan langsung di UNS melalui jalur IPS.

Meski saya berasal dari jurusan IPA, Alhamdulillah saya bisa melalui ujian SNMPTN IPS dan akhirnya diterima di jurusan Sastra Inggris UNS. Masih sangat lekat di ingatan perjuangan mencari informasi beasiswa yang saya dapatkan ini di kampus UNS. Dari kelima teman saya yang lolos seleksi beasiswa BMU, hanya saya yang lolos dan diterima di UNS (dua orang tidak mengikuti SNMPTN). Walhasil saya harus mencari informasi beasiswa ini di UNS sendirian. Beberapa kali ke UNS saya berjalan di dalam kampus tanpa mengetahui di mana saya harus mencari tahu tentang informasi ini. Akhirnya, saya bertemu dengan kakak senior dari BEM UNS dan saya dibantu untuk mengurusi masalah beasiswa ini.

Kuliah, Kerja, dan Berorganisasi

Memasuki bangku kuliah, saya kemudian mencari cara agar bisa membayar biaya kuliah, biaya hidup dan kebutuhan lainnya. Saya telah bertekad untuk tidak memberatkan orangtua jika saya kuliah. Beberapa bulan di masa awal kuliah saya masih diberi uang saku oleh orangtua. Namun uang tersebut tidak mencukupi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan hidup saya. Tidak lama kemudian kiriman uang dari orang tua sudah mulai berhenti. Saat itu saya masih bisa menggunakan uang beasiswa untuk biaya SPP dan untuk keperluan lainnya.  Pada saat itulah saya merasakan nikmatnya kehidupan mahasiswa. Saya memutuskan untuk bekerja dan berjualan disamping aktivitas kuliah saya,

Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa PPA (Program Peningkatan Akademis) selama tiga tahun berturut- turut (2009-2011) yang bisa menutupi biaya SPP. Dari awal masuk kuliah hingga di semester sembilan ini saya selalu menunda pembayaran uang kuliah karena saya harus pintar memutar uang. Bagi saya ini sangat penting untuk menjaga arus uang dan dinamisasi aktivitas. Tahun pertama dan kedua, saya aktif mengikuti lomba debat Bahasa Inggris di tingkat kampus maupun nasional. Dari lomba tersebut saya bisa mendapatkan hadiah uang dan juga pengalaman berharga lainnya. Saya berkesempatan untuk menjejakkan kaki di Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Indonesia karena lomba tersebut.  Dari keaktifan di lomba ini, saya juga menambah daftar aktivitas menjadi seorang juri pada lomba  speech dan debat di Solo dan sekitarnya. Lumayan untuk menambah penghasilan dan juga jam terbang. Bisa belajar terus. Di samping itu, pengalaman kerja saya juga beragam meskipun masih serabutan. Saya pernah berjualan pulsa dan aksesoris, menjadi surveyor perusahaan, pemeriksa ujian, guru privat, penerjemah, guru TK, SD dan SMP, serta pelatih debat. Semuanya saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, menunjang aktivitas organisasi dan juga melakukan sebuah investasi kegiatan di masyarakat yang memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Di samping kegiatan perkuliahan, pekerjaan dan lomba, saya tetap berusaha aktif di beberapa organisasi kampus maupun luar kampus. Sebagai mahasiswa baru, saya mengikuti berbagai organisasi seperti BEM UNS, English Department Community, Student English Forum, JN UKMI, Rukun Tetangga Mahasiswa, dan KAMMI. Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah saya menjadi salah satu pendorong terbentuknya BEM di fakultas. Nah, setelah terbentuknya BEM Fakultas Sastra dan Seni Rupa inilah karir keorganisasian saya bergulir. Kurang lebih tiga tahun saya berjuang bersama teman- teman di BEM FSSR, mulai dari menjadi Ketua Divisi Penalaran hingga Menteri Luar Negeri. Saya juga berkesempatan menempati posisi selevel menteri di himpunan mahasiswa jurusan.

Saya sadar bahwa saya tidak bisa menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang). Organisasi mengikat saya secara positif dalam dimensi struktural dan emosional. Berorganisasi juga membentuk kepribadian saya menjadi lebih matang. Kecakapan yang saya dapatkan di organisasi ini sangat membantu pengembangan diri pribadi. Proses pematangan ideologi, pendalaman permasalahan, analisis konflik kebangsaan, dan kepekaan bermasyarakat semua dimulai dari organisasi. Di organisasi ini pula, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung bukan hanya sebagai pengunjung namun juga tamu dan berbicara di depan mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Hingga akhirnya pada tahun 2012, saya melamar Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Dompet Dhuafa dan puji syukur, Alhamdulillah pendaftaran saya diterima. Saya menjadi salah satu dari delapan aktivis UNS yang menerima manfaat beasiswa ini. Beasiswa ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT di masa tua saya sebagai mahasiswa.  Di saat saya masih bergelut dengan permasalahan finansial dalam berbagai kegiatan, beasiswa ini memberi saya tunjangan dana aktivitas yang sangat membantu. Selain itu, beasiswa ini juga membekali kami dengan sharing value serta  berbagai macam pelatihan yang sangat bermanfaat. Pengalaman bertemu dengan aktivis mahasiswa dari berbagai kampus unggulan di Indonesia (ITB, UGM, UI, IPB dan UNSRI) juga merupakan pengalaman yang luar biasa.

Semua rekam jejak perjalanan saya semasa kuliah, baik akademis maupun non akademis saya pijakkan dari visi untuk beribadah kepada-Nya, dari motto hidup bahwa hidup adalah perjuangan yang tak henti-henti, dan dari kesadaran mendalam bahwa my goal isn’t simple so my effort must be harder. Satu hal yang selalu saya pegang ketika saya berada dalam kesusahan dan keputus-asaan: Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al Insyirah:6). Mari berjuang!

Evi Baiturohmah

Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret

Solo Jawa Tengah

Sumber : www.kampusgw.com