Oleh : Tim ACBI Bakti Nusa UNS
Pasar tradisional merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia, sebab di dalamnya terkandung banyak sekali aktivitas dan interaksi yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bansa. Salah satu daerah yang memiliki banyak pasar tradisional adalah Kota Surakarta. Meskipun luasnya hanya 44 m2, namun Surakarta memiliki 44 pasar tradisional. Salah satu pasar tradisional yang cukup memprihatinkan adalah Pasar Panggung Rejo. Pendirian pasar Panggung Rejo merupakan suatu solusi atas permasalahan banyaknya PKL di Jalan Ki Hajar Dewantoro. Pembangunan pasar tersebut merupakan salah satu dari berbagai cara penertiban pedagang kaki lima di Kota Solo. Beberapa peraturan daerah yang mendasar pembuatan pasar ini antara lain Perda Kota Surakarta No.5 2006, Perda Kota Surakarta No. 3 2008 dan Perda Kota Surakarta No. 8 Tahun 2009.
Pasar ini dibangun pada tahun 2009. Tujuan relokasi PKL ke Pasar Panggung Rejo untuk menata lingkungan agar sehat dan bersih, pengembalian fungsi badan jalan dan membangun fasilitas umum, menyediakan tempat usaha yang dapat bersinergi dengan lingkungan. Tahap penataan yang sudah pernah dilakukan pendataan, sosialisasi, solusi dan penyediaan sarana dan prasarana usaha gratis. Namun, pada saat itu PKL bertambah sebab mengetahui ada penataan sehingga ada pihak-pihak yang memanfaatkan peluang
Setelah pasar Panggung Rejo dibangun, satu per satu PKL justru meninggalkan pasar tersebut. Kondisi Pasar panggung rejo sepi pengunjung dan dianggap tidak representatif. Padahal letaknya berdekatan dengan 2 kampus besar di Surakarta, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Seni Indonesia (ISI). Selain itu mutu bangunan pasar pun dirasa pemerintah daerah sudah cukup baik. Pemerintah tidak dapat memungkiri bahwa pada saat itu penataan PKL kurang maksimal karena banyak PKL yang kembali ke jalan. Meskipun berbagai upaya yang telah dilakukan seperti pembinaan dan pendampingan PKL, mamasang papan informasi penunjuk pasar, membuat kegiatan hiburan dari pasar, mendatangkan CSR untuk mendukung kegiatan PKL, namun tidak banyak mengubah kondisi di lapangan.
Pasar Panggung Rejo memiliki 210 kios, hanya 30 yang aktif dan 170 lainnya non aktif. Sebenarnya berdasarkan peraturan, kios yang selama 3 bulan berturut tidak digunakan akan disegel, namun pada kenyataannya ada pihak-pihak yang memanfaatkannya sebagai aset yang disewakan kepada orang lain. Sebenarnya, prosedur penyewaan calon pedagang pasar, mengajukan surat ke dinas, kemudian setelah disetujui dan diberikan izin penggunaan kios maka pedagang dapat menggunakan kiosnya. Penyewaan kios di pasar tersebut sebenarnya gratis. Namun fakta yang terjadi di lapangan, banyak calon pedagang bertransaksi langsung dengan pedagang lainnya, sehingga dipungut biaya sewa tanpa standarisasi tertentu. Hal demikian membuat banyak orang ragu untuk menyewa kios di pasar tersebut.
Pasar Panggung Rejo menjadi terlihat tidak representatif karena banyak kios yang berada di lantai 1 dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai aset mereka, padahal tidak digunakan untuk berdagang. Pemilik kios menggunakan berbagai trik untuk tetap memiliki kios itu yang harapannya bisa mereka sewakan. Selain itu mahasiswa pun masih banyak yang enggan untuk datang ke pasar tradisional. Bahkan dalam hal kuliner pun banyak yang lebih senang untuk makan di tepi-tepi jalan sambil nongkrong dibandingkan harus membeli makan di pasar. Barang-barang yang dijual disana pun belum bervariasi, sehingga berbagai kebutuhan mahasiswa belum tersedia disana. Oleh karena itu, berbagai upaya harus dilakukan untuk merevitalisasi peran pasar Panggung Rejo agar memiliki peran yang optimal sebagai pasar tradisional.