Isu Politik yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat saat ini yakni mengenai Pemilu 9 April 2014, Pemilu Legislatif untuk calon DPR dan DPRD serta Pemilu Presiden yang akan dilakukan beberapa bulan setelah pemilu legislatif. Menjelang Pemilu tersebut, banyak  cara yang dilakukan oleh para calon dewan dari berbagai jenis partai untuk menarik simpati masyarakat. Segala bentuk model kampanye dilakukan, diantaranya ada sebagian partai politik yang berkampanye dengan cara blusukan, bakti sosial atau dengan cara hiburan yang mengundang artis populer. Semua itu merupakan bentuk dan strategi partai politik untuk memenangkan suara dan mendapat dukungan serta kepercayaan dari masyarakat. Namun dewasa ini, fenomena politik yang terjadi di Indonesia begitu dilematik, masalah korupsi mampu menjadi pertimbangan dalam hal penentuan calon legislatif dari suatu partai. Korupsi merupakan akar utama kebobrokan suatu bangsa, karena korupsi telah merusak moral serta jati diri bangsa. Saat ini, fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia banyak melibatkan partai politik yang ada di dalamnya, bahkan kenyataan yang terjadi saat ini, partai politik yang mempunyai kader koruptor tebesar justru memiliki elektibilitas tinggi dari masyarakat. Banyak faktor penyebab hal tersebut, diantaranya yakni masalah pencitraan dari partai politik tersebut. Misalnya saja pencitraan yang dilakukan oleh partai politik PDIP dengan menggaet Jokowi untuk maju menjadi Presiden, pencitraan secara personality ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh partai tersebut. Citra Jokowi yang positif mampu menarik masyarakat untuk memberikan suara pada partai PDIP tersebut. Hal ini, merupakan bentuk pencitraan partai dalam hal memperbaiki citra buruk yang berkembang di masyarakat. Selain itu, peran media massa dan media elektronik sangat berpengaruh besar dalam hal mempengaruhi persepsi masyarakat, misalnya saja berdasarkan data yang diberikan oleh KPK Watch tentang partai politik yang mempunyai kader korupter terbesar faktanya jatuh pada PDIP dan partai yang memiliki kader koruptor terkecil jatuh pada PKS.

Dari data tersebut kita bisa kita simpulkan bahwa PDIP merupakan partai dengan jumlah korupter paling besar apabila dibandingkan dengan partai – partai yang lainnya namun karena media massa dan elektronik jarang mengekspos berita itu ke public maka citra PDIP jauh lebih baik di mata masyarakat awam jika dibandingkan dengan citra PKS yang saat ini mendapat persepsi buruk di masyarakat. Padahal jika dilihat kenyataannya, PKS masih jauh lebih baik dari PDIP.

Peran media massa memang sangat besar dalam hal tersebut, bagi sebagian masyarakat yang kurang peka terhadap isu politik, persepsi dan opini yang sering muncul dimedia massa ataupun media elektronik mampu menjadi pertimbangan serta tolak ukur untuk memilih calon legislatif ataupun presiden, hal tersebut mampu dibuktikan dengan fakta partai politik yang mempunyai kader koruptor terbesar justru mempunyai elektibilitas tinggi jika dibandingkan dengan partai-partai yang mempunyai kader koruptor kecil tetapi elektibilitasnya kecil.