Eti Setyarini (FISIP 2010 UNS)

Anak-anak di negeri ini selalu mendapat pemahaman bahwa Indonesia adalah negeri yang indah. Terbentang dari barat ke timur dengan belasan ribu pulau dan lautan yang luas.  Dengan luasan demikian, Indonesia memiliki beragam karakter geografi seperti pantai, palung, jeram, selat, teluk, sanau, gunung berapi aktif, sabana, stepa, bahkan tempat bersalju sekalipun ada di sini. Keindahan itu masih  didukung dengan posisi geografisnya yang berada di sekitar khatulistiwa yang dua samudera dan dua benua. Hal ini menjadikan Indonesia selalu memiliki sinar matahari dan curah hujan yang cukup sepanjang tahun yang berimplikasi pada kesuburan tanahnya.

Selain keindahan geografisnya, anak-anak negeri ini juga selalu mendapatkan pemahaman bahwa negerinya kaya raya. Memiliki  berbagai sumber daya alam yang dapat kita berdayagunakan, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Indonesia juga memiliki sumberdaya manusia yang melimpah dengan berbagai macam karakter dan kebudayaannya. Indonesia seolah bayangan sempurna negeri indah yang patut selalu dibanggakan.

Namun semakin beranjak dewasa, satu per satu dari mereka menyadari bahwa negerinya tidak seindah apa yang dikira. Bayangan negeri sempurna hanya sebuah ilusi fana. Realitas yang mereka temui justru berupa alam yang rusak, sumber daya yang dikuasai asing, pemerintahan yang korup, birokrasi yang berbeli-belit, tatanan sosial masyarakat yang buruk dan berbagai masalah lainnya. Kenyataan ini menjadikan masyarakat negeri ini bersifat pesimis dan sering menyalahkan. Menyalahkan pemimpin, menyalahkan sistem, menyalahkan apapun yang menurutnya patut dipermasalahkan.

Lalu salahkah pemahaman tentang negeri indah kaya raya yang diajarkan ketika masih kanak-kanak? Tidak, tidak ada yang salah dengan pemahaman tersebut. Negeri ini benar kaya raya, indah bak surga di khatulistiwa. Sayang, keindahan dan kekayaannya hilang sedikit demi sedikit, terampas oleh bergantinya zaman dan peradaban.

Kunci utama penyebab kerusakan tidak lain adalah warga masyarakat selaku pelaku peradaban. Dari waktu ke waktu, tidak semua yang menghuni negeri ini mencintai dan menjaga bangsanya sepenuh hati. Banyak dari masyarakat memanfaatkan apa yang ada, baik jabatan, kekuasaan, sumberdaya hanya untuk keuntungan pribadi semata. Mereka yang berkuasa pun juga tidak sepenuhnya negarawan yang sepenuhnya cinta pada bangsanya. Oleh sebab itu, menggadaikan keindahan dan kekayaan bangsa adalah hal yang biasa.

Namun, selalu menyalahkan atas kondisi ini juga bukanlah keputusan yang bijaksana. Bangsa ini adalah bangsa yang besar, baik dari segi wilayah maupun jumlah penduduk. Segala permasalahan di negeri ini bersifat kompleks. Kita tidak dapat mengandalkan pada satu dua orang untuk mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Pun negeri ini milik kita semua, bukan hanya mereka yang memimpin dan berkuasa. Oleh sebab itu, setiap dari kita yang tinggal di sini sesungguhnya memiliki kewajiban yang sama untuk ikut serta merawat bangsa agar tidak semakin kehilangan keindahan dan kekayaannya.

Kita dapat memulai merawat bangsa dengan kepedulian kita. Karena sesungguhnya bangsa ini membutuhkan kita, entah apapun dan bagaimanapun status sosial, ekonomi, dan pendidikannya. Bangsa ini membutuhkan tenaga dan tetes keringat kita, meskipun kita hanya rakyat biasa yang bahkan belum punya banyak harta benda. Bangsa ini membutuhkan kepedulian kita, sekecil apapun yang kita punya. Oleh sebab itu, bersikap peduli, setidaknya dari hal-hal kecil sekitar kita adalah bagian langkah nyata kita untuk merawat Indonesia.